Wednesday, June 17, 2009

Domba Di Tengah Serigala

(asal sumber tidak di ketahui)

Matius 10:16

Nats Alkitab yang baru kita baca ini oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) ditaruh pada bagian perikop yang baru namun lembaga Alkitab lain, yaitu New International Version (NIV), menaruh nats ini pada perikop sebelumnya. Hal ini menunjukkan kalau nats ini merupakan ayat jembatan sehingga bisa diletakkan di perikop baru atau perikop sebelumnya. Kita telah memahami kalau Tuhan Yesus memilih sendiri para murid dan memberikan jabatan rasul pada mereka maka hal itu janganlah menjadikan kita sombong karena merasa diri eksklusif. Ingat, kalau kita dipilih menjadi murid Tuhan maka itu merupakan suatu anugerah, sebab sesungguhnya kita tidaklah layak, memang siapakah kita manusia berdosa yang bodoh ini sehingga Tuhan berkenan memakai kita untuk turut ambil bagian dalam kerajaan-Nya? Biarlah dengan rendah hati kita tetap melayani Dia. Seorang yang mempunyai kedudukan tinggi sebagai rasul bukan berarti boleh bersantai ria dan tidak bekerja. Tidak! Tuhan Yesus langsung mengutus mereka untuk pergi karena kita telah memperolehnya dengan cuma-cuma maka kita pun harus memberi. Perhatikan, dalam hal ini cara Tuhan Yesus berbeda dengan dunia.

Dalam pengutusan itu, Tuhan tidak mengijinkan para murid membawa emas atau perak atau tembaga bahkan bekal, baju ataupun tongkat. Jabatan rasul justru tidak menjadikan mereka istimewa. Tuhan Yesus ingin mendidik mereka untuk selalu bersandar pada-Nya. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang tidak mau dididik, orang menganggap didikan Tuhan yang keras itu justru sebagai hukuman. Banyak orang Kristen tidak mau hidupnya dilatih dengan keras oleh Tuhan maka tidaklah heran kalau pelayanan menjadi tempat bagi orang untuk memenuhi keegoisan dirinya; orang hanya mau melayani kalau ada jabatan atau kalau ada keuntungan saja. Salah! Didikan Tuhan itu justru karena Tuhan sayang, bagaimana mungkin buah zaitun dapat menghasilkan minyak kalau tidak diperas? Begitu pula dengan emas haruslah dipanaskan terlebih dahulu barulah nampak kemurniannya. Konsep ini telah disadari oleh Socrates sejak ribuan tahun lalu, hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dihidupi. Tuhan ingin setiap kita memahami hal ini dengan demikian kita siap dipakai oleh Tuhan menjadi murid-Nya karena posisi seorang murid disini sangatlah sulit, yaitu seperti domba di tengah-tengah serigala.

1. Domba atau Serigala

Tuhan ingin kita tetap menjadi seekor domba meski ada di tengah-tengah serigala. Pertanyaannya adalah kita termasuk serigala atau domba? Biarlah hal ini menjadi evaluasi bagi diri kita, kita harus memilih salah satu diantaranya, tidak ada pilihan ketiga. Serigala dan domba ini mempunyai karakter yang berlawanan. Sifat manusia berdosa di tengah dunia ini layaknya seperti serigala yang licik dan Tuhan memilih kita seorang manusia berdosa diantara manusia berdosa lainnya untuk dipakai menjadi anak-Nya. Memang, dulu kita adalah manusia berdosa, kita adalah serigala tetapi ketika Tuhan pilih kita menjadi anak-Nya maka kita bukan direparasi tetapi kita dicipta baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Serigala bukan domba dan domba bukan serigala maka tidaklah mungkin serigala berlaku seperti domba atau sebaliknya. Namun realita menunjukkan dunia ini sudah seperti serigala; pada hakekatnya manusia adalah serigala terhadap sesamanya. Maka tidaklah heran kalau konsep utilitarianisme berkembang pesat saat ini karena ajarannya mempunyai kesamaan sifat dengan manusia berdosa, yaitu semangat serigala, wolf spirit.

Konsep utilitarianisme ini pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham namun mendapat tentangan dari banyak pihak sehingga konsep ini tidak sempat berkembang. Teori ini dimunculkan kembali oleh James Mill; ia mendidik anaknya sedemikian rupa untuk menjadi seorang utilitarian sejati maka tidaklah heran kalau anaknya, John Stuart Mill menjadi tokoh utilitarian yang kita kenal sekarang. Utilitarianisme mengajarkan bahwa hidup di dunia, orang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu memanfaatkan atau tidak membawa keuntungan bagi dirinya maka ia akan dibuang, seperti pepatah yang berbunyi: habis manis sepah dibuang. Inilah wajah dunia kita yang berdosa dan gejala seperti ini diangkat oleh seorang sosiolog menjadi sebuah issue, yaitu manusia itu serigala bagi sesamanya, homo homini lupus. Manusia dikatakan sebagai serigala karena sifat serigala itu sangatlah licik, yakni tidak berani menghadapi lawan dari depan. Tuhan Yesus tahu akan keadaan dunia yang demikian ini maka konsep homo homini lupus ini bukanlah hal yang baru lagi. Tuhan Yesus menegaskan orang Kristen tidak boleh menjadi serigala tapi anak Tuhan harus menjadi domba di tengah-tengah serigala. Hati-hati janganlah kita cepat mengadopsi pemikiran para filsuf dunia dan langsung menerapkannya di dalam seluruh aspek hidup kita tanpa kita melihat kehidupan pribadi dari sang tokoh karena pada umumnya, teori etika yang dipaparkan para filsuf ini sangatlah indah tetapi kehidupan si pencetus teori tersebut tidaklah seindah teorinya. Inilah manusia berdosa.

Sebagai orang Kristen, kita harus berbeda dengan dunia. Orang yang mengaku diri Kristen tetapi mempunyai karakter sama dengan dunia maka dia bukanlah orang Kristen. Orang Kristen sejati seharusnya ada perubahan konsep dalam dirinya kalau perubahan tingkah laku memang tidak dapat langsung berubah. Masih banyak orang Kristen yang jatuh dalam dosa tapi ada perbedaan yang mendasar antara orang Kristen sejati dan orang yang mengaku “Kristen“ ketika mereka sama-sama jatuh dalam dosa. Orang Kristen sejati pasti tidak mau sama dengan dunia maka ketika ia jatuh, ia akan mempunyai jiwa untuk mau bangkit dan bangkit, ia akan terus berjuang untuk menjadi seekor domba, untuk tidak menjadi serupa dengan dunia, ada perubahan hidup yang terus terjadi dalam hidupnya dengan demikian ia dipakai menjadi alat Tuhan. Berbeda halnya dengan orang yang mengaku diri “Kristen“ maka ia akan berkompromi dengan dosa. Tuhan tidak menuntut kita untuk langsung berubah ketika menjadi anak-Nya, tidak, perubahan tingkah laku itu tidak dapat terjadi secara langsung tetapi perubahan itu terjadi secara step by step, ada proses di dalamnya.

2. Kuasa Pemeliharaan Allah

Kalau menurut teori dunia, kalau seekor domba ditaruh ditengah-tengah serigala maka kemungkinan besar domba itu mati. Namun, ingat, konsep dunia berbeda dengan konsep Tuhan; seekor domba tidak akan mati meski ia ada di tengah-tengah serigala karena ternyata domba ini tidaklah sendirian, ada gembala yang selalu siap melindungi dan menjaga dia dimana gembala ini tidak kelihatan secara kasat mata. Pertanyaannya adalah sadarkah si domba ini kalau sang gembala selalu ada di dekatnya meski ia tidak kelihatan? Sebagai orang Kristen sejati, janganlah kita mau ditipu oleh segala macam ajaran dan mujizat yang mengajarkan bahwa anak Tuhan itu layaknya “superman“ yang dapat mengalahkan berbagai-bagai tantangan yang ada di dunia. Celakanya, ada orang yang berani menyatakan bahwa orang Kristen tidak akan mengalami celaka apalagi mengalami sakit penyakit karena orang Kristen mempunyai kekuatan dan kuasa yang berlebih. Konsep demikian inilah yang membuat orang Kristen justru tidak menjadi kuat dan mudah jatuh.

Tuhan tidak pernah menjanjikan orang Kristen hidupnya akan selalu nikmat dan tidak berkekurangan, tidak, Tuhan juga tidak janji bahwa orang Kristen tidak akan pernah mengalami kesusahan, tidak! Ironisnya, ketika orang mengalami kesulitan kita justru menyalahkan Tuhan dan menganggap Tuhan yang jahat. Tuhan justru menaruh kita di tengah-tengah dunia berdosa yang penuh dengan bahaya ini seperti domba di tengah-tengah serigala namun percayalah, Tuhan Yesus Sang Gembala yang Agung itu tidak akan membiarkan kita mati dicengkeram oleh serigala sebab Tuhan tahu sampai dimana batasan kekuatan kita. Seperti halnya Ayub, Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatannya, Tuhan mengijinkan iblis menguji imannya namun Tuhan tidak mengijinkan iblis untuk menjatuhkan imannya apalagi mengambil nyawanya karena nyawa manusia adalah milik kepunyaan Tuhan. Maka jelaslah, hidup kita akan kuat karena berada di bawah kuasa pemeliharaan Tuhan tetapi dipihak lain, kita menyadari bahwa sesungguhnya hidup kita sangatlah lemah maka ini menjadi suatu paradoks namun justru di dalam kelemahanlah kita menjadi kuat. Konsep ini sukar dimengerti oleh dunia. Tuhan Yesus melarang para murid – tidak membawa uang seperser pun bahkan bekal karena Tuhan Yesus hendak mengajarkan pada mereka bahwa sesungguhnya manusia bukanlah siapa-siapa, hidup manusia sangat lemah dan bergantung mutlak pada Tuhan. Karena itu, janganlah menyandarkan diri pada hal-hal materi yang sifatnya duniawi tetapi hendaklah kita bersandar pada Tuhan Sang Pemilik dan yang menciptakan dunia ini.

3. Pandangan dan Ketertarikan

Ketika kita berada di dalam kelemahan, Tuhan mengajarkan pada kita untuk mengarahkan pandangan kita pada Tuhan Yesus Sang Gembala Agung, janganlah kita memandang pada serigala karena arah pandangan itu justru akan membuat kita terjatuh. Hati-hati, dunia ini semakin hari tidak menjadi semakin baik justru semakin rusak, banyak serigala yang siap menerkam sehingga kalau kita tidak hati-hati kita akan terjatuh karena itu, ketika kita berjalan janganlah menengok ke arah serigala supaya kita tidak terjatuh. Janganlah kita terjerat dalam berbagai macam ajaran iblis yang menyesatkan yang mengatakan bahwa dunia ini khususnya Indonesia akan menjadi makmur dan jaya. Tidak! Firman Tuhan menegaskan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar; manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (2Tim. 3:1-7). Manusia melihat suatu realita bahwa dunia ini semakin hancur, kita tahu realita kalau ada serigala di hadapan kita namun kita tidak binasa karena kita tahu tangan Tuhan selalu melindungi kita sehingga kita tidak menjadi hancur. Tuhan mengutus untuk kita pergi dan menjadi saksi bagi-Nya hingga ke seluruh dunia dan Tuhan janji, Ia akan beserta senantiasa sampai kepada akhir jaman (Mat. 28:19-20). Hendaklah kita terus menyadari bahwa kita tidak lebih hanyalah seekor domba yang lemah yang diutus di tengah-tengah serigala namun di dalam kelemahan itu, kita mempunyai Tuhan Sang Gembala Agung yang tidak pernah membiarkan kita sendiri. Kita mungkin ada dalam lembah kekelaman, kita berada dalam bayang-bayang maut, kita akan menghadapi bahaya namun gada Tuhan dan tongkat Tuhan itu akan menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita.

4. Cerdik dan Tulus

Memang, orang Kristen tidak lebih hanyalah seekor domba lemah tapi lemah bukan berarti bodoh sehingga mudah dipermainkan. Tidak! Tuhan ingin kita mempunyai pemikiran yang cerdik seperti ular dan perilaku yang tulus seperti merpati. Menurut teks aslinya, istilah “cerdik seperti ular“ disini tidak berkonotasi negatif tetapi ular merupakan gambaran dari seseorang yang mempunyai ketajaman cara pikir sehingga segala keputusan dan tindakan yang diambil tepat. Cerdik dari bahasa aslinya, prominos yang berarti orang yang mempunyai pengertian total dan mempunyai data lengkap dimana semua aspek kemungkinan yang terjadi telah diperhitungkan lalu dapat mengambil keputusan yang jitu pada saat yang dibutuhkan tersebut. Sebagai seorang Kristen sejati janganlah kita mudah dipengaruhi oleh berbagai macam arus dunia tetapi hendaklah kita dapat melihat gejala dunia dengan tajam dengan demikian kita tidak terhempas dan akhirnya tenggelam. Seperti halnya seorang yang terjebak dalam pusaran air maka satu-satunya cara supaya ia dapat selamat adalah harus ada orang lain yang berada di luar pusaran air yang menyelamatkannya sebab dia dapat melihat dimana pusat pusaran dengan demikian ia tahu harus bertindak apa dan dirinya pun tidak ikut masuk dalam pusaran.

Bukanlah hal yang mudah dan sederhana bagi seseorang untuk dapat mengambil keputusan secara tepat dan hal ini tidak dapat terjadi secara instan tapi ada proses belajar dan pergumulan terlebih dahulu barulah dapat diambil suatu keputusan tepat. Janganlah kita mau segala sesuatu dengan cara instan dan menggampang-kan segala sesuatu. Seahli-ahlinya kita berenang kalau kita berada dalam pusaran air dan kita tidak pernah belajar bagaimana mengatasinya maka kita pasti akan terseret arus dan akhirnya mati. Kita tahu permainan dunia maka jangan sekali-kali kita mencoba masuk di dalamnya kalau tidak mau terseret dalam pusaran dunia. Cerdik beda dengan licik. Orang yang licik memakai kecerdikan untuk sifat negatif karena itu, Tuhan menegaskan kita harus cerdik dan tulus, artinya mempunyai motivasi bersih ketika melakukan segala sesuatu. Inilah sifat kebenaran sejati, yaitu tujuan, motivasi dan hasil akhir mengarah pada satu titik dan tidak meleset dari tujuan semula. Sebaliknya dosa (dari kata hamartia) berarti melakukan sesuatu tetapi tujuan selalu meleset dari tujuan semula. Dunia sangatlah licik, katanya tujuan memberi namun sesungguhnya adalah memancing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, motivasi yang tidak tulus ini dapat kita lihat pada sikapnya ketika kita tidak membalas kebaikannya pasti ia akan marah. Tuhan ingin ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati yang murni dan tulus. Ingat, Tuhan tahu isi hati kita dan suatu saat nanti Tuhan akan menghukum kita. Sebagai anak Tuhan sejati, kita harus mempunyai hati yang tulus maka Tuhan akan berkenan dan kita dapat menjadi berkat bagi dunia. Amin. ?


Menembus Penghalang Untuk Melangkah Dalam Kepastian

Yohanes 4: 1-42

Oleh: Pdt. Gilbert Lumoindong


I. PENDAHULUAN

Seringkali langkah-langkah kita terhambat karena ketidakmampuan kita menembus penghalang-penghalang yang harus dihadapi. Penghalang-penghalang pasti ada dalam jalan hidup ini, namun meskipun banyak penghalang dan tantangan serta rintangan, kita harus melangkah dengan pasti. Karena kepastian kita bukanlah berbicara mengenai suatu keadaan yang begitu banyak penghalang, tetapi kepastian kita berbicara tentang sikap hati kita dalam menghadapi penghalang-penghalang tersebut agar kita dapat meraih kemenangan.
Alkitab mencatat, perjalanan hidup Yesus penuh dengan tantangan dan hambatan. Jika Yesus sendiri yang adalah Tuhan dan Raja di atas segala raja dan yang Kudus adanya, juga menghadapi tantangan, apa lagi kita sebagai umat-Nya. Jadi persoalannya, bukan seberapa besar tantangan yang dihadapi, tetapi bagaimana cara kita menyelesaikannya.
Tuhan mempunyai rencana yang indah dan dahsyat dalam kehidupan kita, namun langkah-langkah kita terhambat karena ketidak-mampuan kita menembus penghalang-penghalang yang harus kita hadapi. Penghalang pasti kita hadapi, ini disebut “Aksioma” yaitu sebuah hukum yang tidak pernah bisa dipungkiri di dalam perjalanan hidup ini.



II. HALANGAN I -> KRITIKAN (ayat 1-2)
Kritikan bukan saat untuk kecewa, mundur dan putus asa
Ada banyak hal yang bisa menjadi alasan untuk orang mengkritik kita, namun kritikan tidak boleh menghambat jalan kita. Karena itu kritikan bukanlah jadi alasan untuk kecewa, mundur, putus asa, lalu menyerah. Tetapi :

1.Kritikan harus membuat kita introspeksi.Jadi kita harus melihat setiap kritikan secara positif dan menerimanya dalam konteks yang sehat, artinya kalau memang ada yang harus kita rubah dan perbaiki maka kita harus lakukan, kalau memang tidak ada yang perlu dirubah kita kuatkan hati kita dan belajar untuk menerima orang lain apa adanya.

2.Kritikan harus memantapkan visi kita.Yesus pergi bukan untuk melarikan diri, tapi karena ada rencana Tuhan yang hebat dalam hidup-Nya. Jadi justru masalah, tekanan, kritikan itu harus memantapkan visi kita kepada Tuhan.

3.Kritikan harus menjaga kita agar tetap mengandalkan Tuhan.Jadi kritikan itu harus menyadarkan kita bahwa kita tidak sempurna dan tidak dapat berdiri sendiri dan sangat membutuhkan pertolongan Tuhan.

II. HALANGAN II -> KELELAHAN (ayat 4-6)

Semua orang pasti bisa dan sering mengalami kelelahan. Dan kelelahan ini seringkali membuat orang cepat emosi, menjadi malas dan bersifat kekanak-kanakan yang harus selalu dimengerti oleh orang lain. Namun kelelahan bukan saat untuk berhenti berkarya, yang kita butuhkan adalah istirahat yang sejati.

1. Kesadaran akan kehadiran Allah.
Seletih apapun, kalau kita tahu bahwa Tuhan hadir, maka itu akan memberikan kekuatan yang baru buat kita.

2.Kesadaran tentang janji-janji Allah.
Begitu banyak janji-janji Allah yang tertulis di dalam Alkitab. Kalau kita menyadarinya dan mengimaninya, maka walaupun kita lelah, janji-janji itu akan membuat kita segar kembali.

3.Kesadaran akan penyertaan & tuntunan Allah.
Kalau kita sadar akan penyertaan dan tuntunan Allah dan kita hidup di dalamnya, maka kita tidak akan merasa lelah karena Tuhan akan menopang dan memberi kekuatan yang baru setiap saat.



III. HALANGAN III -> PERBEDAAN (ayat 7,9)

Di dalam ayat bacaan ini diceritakan mengenai perbincangan Yesus dengan perempuan Samaria. Yesus adalah orang Yahudi, dan pada zaman tersebut, orang-orang Yahudi selalu memandang rendah orang Samaria. Ini berarti ada perbedaan antar orang Yahudi dan orang Samaria. Namun perbedaan ini tidak menjadi alasan bagi Yesus untuk tidak menolong dan meninggalkan perempuan itu. Demikian juga dengan kita, kalau perbedaan dijadikan alasan untuk tidak maju, tidak berkarya, tidak berusaha merebut kemenangan, maka kita berada dalam persoalan yang serius. Karena itu, hidup ini sangat ditentukan oleh bagaimana sikap kita dalam menghadapi atau menyikapi perbedaan. Jadi, janganlah menyelesaikan perbedaan dengan permusuhan dan keributan.

Ada beberapa hal penting yang kita lihat dalam ayat ini:

1.Ramah- memulai pembicaraan.Walaupun orang Yahudi dan orang Samaria sangat berbeda, namun Yesus menunjukkan keramahanNya dengan memulai pembicaraan.

2.Tidak angkuh.Walaupun Yesus orang Yahudi, namun Yesus tidak angkuh dalam percakapan dengan perempuan Samaria tersebut.

3.Tidak menghakimi.Yesus tahu bahwa latar belakang perempuan tersebut. Tetapi Yesus tidaklah menghakiminya.


IV. HALANGAN IV -> KESULITAN (ayat 9)

Walaupun ada kesulitan dimana orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang Samaria, namun Yesus tetap menempatkan pelayanan sebagai prioritasNya.
1.Lebih penting dari kebiasaan.
2. Lebih penting dari kepentingan diri.
3. Lebih penting dari pandangan-pandangan orang.

Bagi seorang yang fokusnya jelas, kesulitan yang dihadapi merupakan sebuah kenikmatan. Tetapi orang bodoh melihat kesulitan bagaikan macan yang menakutkan yang akan menghancurkan. Jadi sukses atau gagalnya seseorang tidak tergantung masalah atau beban yang dihadapi, tapi tergantung pada bagaimana sikapnya dalam menghadapi kesulitan itu. Orang sukses adalah: Seorang yang tersenyum ditengah kesulitan, belajar dari kesulitan dan mau menghadapi kesulitan. Tetapi orang bodoh adalah: seorang yang: menangis ditengah kesulitan, lari dan menghindar dari kesulitan. Oleh karena itu, orang bodoh sulit untuk belajar sehingga sulit untuk maju.

V. HALANGAN V -> KECURIGAAN (ayat 27 & 31-32)

Ada panyak perkara yang bisa menjadi alasan orang curiga pada kita. Sama seperti yang dialami Yesus, ketika Ia berbincang-bincang dengan wanita Samaria, murid-murid-Nya menatap Yesus dengan curiga. Namun tatapan mata dan sikap yang penuh kecurigaan tidak boleh menghambat kita untuk menjadi pelaku Firman.

1.Pandangan orang tidak dapat mengubah pandangan & rencana Allah.Yesus tidak perduli walaupun murid-muridNya memandangNya dengan curiga.

2.Pandangan orang tidak boleh mengubah sikap kita.Kecurigaan murid-muridNya tidaklah mengubah sikap Yesus untuk menolong perempuan Samaria tersebut.

3.Pandangan orang tidak dapat menghambat kesaksian kita.Walaupun murid-muridNya mencurigai, tetapi Yesus tetap melayani perempuan tersebut.


VI. PENUTUP
Karena itu sebagai orang-orang percaya, tembuslah setiap penghalang dan hambatan serta rebutlah kemenangan. Sebab bersama Yesus tidak ada perkara yang mustahil, mujizat dan kemenanganlah yang kita raih.

Doa :
Ya Bapa, Engkau terlebih dahulu telah mengalami halangan dan hambatan dan dapat mengatasi semuanya, sekarang berikanlah kami hikmat dan kuasa untuk dapat menyikapi serta mengatasi setiap hambatan dan rintangan di sepanjang hidup ini, sehingga olehnya kami dapat meraih kemenangan.(jhw/emm)

oleh: Pdt. Gilbert Lumoindong
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...