Showing posts with label Jiwa yang Terluka. Show all posts
Showing posts with label Jiwa yang Terluka. Show all posts

Sunday, September 26, 2010

Tips: Mengatasi Depresi

1. Hindari rasa sepi.

Martin Luther pernah mengatakan bahwa rasa sepi adalah racun bagi orang yang mengalami depresi, karena dengan kesepian, Setan berusaha membuat orang yang depresi berada di bawah kuasanya. "Bercakap- cakaplah kalian satu sama lain agar saya tahu bahwa saya dikelilingi oleh orang-orang" pinta Martin Luther melalui sebuah "papan bicaranya". Mungkin pada saat Martin menuliskan pikirannya tersebut, ia sedang dalam keadaan tertekan.

2. Cari orang atau situasi yang dapat menularkan kebahagiaan.

Kebahagiaan selalu membuat Tuhan senang meskipun bersenang-senang tidak menunjukkan suatu sikap religius. Menikmati film di bioskop atau permainan yang menyenangkan sama halnya dengan melakukan perjalanan di hutan.

3. Bernyanyi dan bermain musik.

Di sini Martin menekankan pentingnya keterlibatan aktif seseorang dalam bermain musik dari pada sekedar mendengarkan saja. Ketika Martin menasihati seorang aristokrat yang sedang bersedih, ia mengatakan, "Saat kau merasa sedih dan takut, katakan pada dirimu sendiri, 'Ayo bangkit, aku harus menyanyikan sebuah lagu dengan organ untuk memuliakan Allah Tuhanku'". Karena dalam Alkitab dikatakan bahwa Tuhan menyukai musik, Ia pun memainkan alat musik dengan merdu. Mainkanlah organ dan biarkan diri Anda ikut terhanyut dalam musik sampai pikiran-pikiran yang membuat anda sedih berlalu seperti yang pernah dilakukan oleh Daud. Jika setan terus saja mengganggu anda, katakan saja padanya, "Pergilah engkau Setan, aku harus bernyanyi dan memainkan musik untuk Yesus Tuhanku." Sekali lagi, Martin Luther mengungkapkan bahwa musik yang dimaksudkan di sini bukan hanya musik religius saja, tetapi musik pada umumnya. Tuhan adalah Maha Mendengar dan kita dapat membuat-Nya suka cita dengan permainan musik kita yang dapat meringankan rasa sedih yang kita alami.

4. Hilangkan pikiran-pikiran yang membebani kita.

Martin mengingatkan kita bahaya dari terlalu hanyut dalam kemurungan atau kesedihan karena hal ini akan membuat kita tidak dapat tidur semalaman atau menyerang diri kita saat kita akan mengawali hari kita di pagi hari. Ia menasihati kita untuk menertawakan atau bahkan mengejek Setan dan tidak memberi kesempatan Setan untuk menang. "Tetapi yang terbaik yang dapat kita lakukan adalah menolak berperang dengan Setan. Acuhkan saja pikiran-pikiran yang membuat kita depresi! Bersikaplah seolah-olah kita tidak merasakannya! Pikirkan hal lain dan katakan: 'Baiklah Setan, jangan ganggu aku lagi. Aku tidak punya waktu melayani pikiran-pikiranmu. Aku harus pergi, makan, minum, melakukan ini atau melakukan itu. Sekarang aku harus bersuka cita. Datang saja lain waktu.'"

5. Percayalah pada janji-janji Alkitab.

Janji-janji Alkitab mendorong kita untuk berpikir positif seperti halnya seorang perempuan yang menyadari bahwa ia membawa kotak pertolongan pertama depresi. Akan sangat menolong adalah ayat-ayat yang kita hapal karena ayat-ayat tersebut akan menolong kita pada situasi-situasi tertentu. Ayat-ayat itu seperti gada dan tongkat Tuhan yang membuat perjalanan kita di lembah kekelaman lebih nyaman seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 23.

6. Carilah penghiburan dari orang lain.

Dalam keadaan depresi kita seringkali membuat bukit di atas rumah tikus tanah. Seorang teman, bagaimanapun juga, dapat melihat permasalahan dengan perspektif yang benar dan mengetahui sisi positif yang tidak kita lihat saat itu. Seperti mencoba bangkit dari lumpur dengan menarik rambut kita sendiri, adalah hal yang tidak mungkin mencoba bangkit dari kesedihan yang mendalam tanpa bantuan orang lain. Sebaliknya, kita juga dapat bertanya pada diri sendiri apakah kita merupakan orang yang dapat membantu orang lain sama seperti Tuhan mengirimkan bantuan kepada Elisa -- dengan sentuhan- sentuhan seperti pelukan hangat, makanan yang cukup, istirahat dalam ruang yang tenang dan nyaman. Ya, bahkan buket bunga pun dapat mengusir depresi kita.

7. Bedoa dan mengucapkan syukur.

Ini adalah senjata yang ampuh untuk mengusir depresi. Kita diingatkan kembali akan Nebukadnezar yang, ketika matanya menatap kesurga dan berdoa kepada Tuhan, dapat mengatasi rasa depresi yang sedang dialaminya. Dengan bersyukur, orang dapat membuat daftar hal- hal yang perlu ia syukuri sehingga ia dapat berdoa kepada Tuhan dengan suara keras.

8. Pikirkan orang-orang lain yang juga mengalami depresi.

Nasihat Martin ini tampak sangat mengejutkan tetapi sebenarnya masuk akal juga. Dengan memikirkan orang lain yang sedang mengalami depresi juga akan membantu orang tersebut untuk tidak egois dalam kesedihannya, dimana ia merasa tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih menderita daripada dia.

9. Ujilah kesabaran diri sendiri.

Kata menguji disini sangatlah penting dan dapat diartikan sebagai suatu latihan. Kadang-kadang kita memang harus dapat menerima kenyataan bahwa hidup penuh dengan lembah dan gurun yang harus kita lalui. Seperti juga ketrampilan-ketrampilan lain yang harus kita pelajari dalam hidup, kita juga harus belajar bagaimana bertahan dalam menghadapi masa-masa yang berat. Disini saya juga ingin menambahkan suatu nasihat berdasarkan pengalaman saya sendiri. Olah raga atau latihan fisik -- baik itu joging, renang, menari atau berkebun -- adalah cara-cara yang baik untuk melatih kesabaran kita. Setiap keringat (termasuk juga keringat yang dihasilkan saat mandi sauna) hasil dari aktivitas yang membuat seluruh permukaan kulit basah kuyup akan membuahkan hasil yang menakjubkan dalam usaha pemulihan diri dari depresi.

10. Percaya pada berkat dari depresi.

Kita dapat menemukan sisi positif dari depresi yang kita alami. Nasihat Luther yang terakhir ini sarat dengan pokok pikiran yang penting yang akan saya jabarkan dalam kesimpulan.

Published in e-Konsel, 15 June 2002, Volume 2002, No. 18

http://c3i.sabda.org/tip_mengatasi_depresi

Proses dan Langkah Praktis Untuk Memaafkan

PROSES MEMAAFKAN

Ada lima tahap penting dalam proses kita mengampuni orang lain.

  1. Menyadari dan menerima rasa sakit hati.
  2. Pahami alasannya.
  3. Sadarilah.
  4. Jangan mau jadi korban.
  5. Menerima kenyataan.

Adanya kemampuan menyadari dan menerima rasa sakit hati kita akibat perbuatan orang lain. Jangan menolak, menyangkal atau menganggap remeh sakit hati Anda. Sadari juga akibat-akibat yang sudah ditimbulkan rasa sakit itu.

Cobalah memahami alasan orang itu menyakiti hati Anda. Mengampuni hanya akan terjadi bila kita mengulurkan tangan kita kembali kepada pihak yang bersalah, berusaha melihat nilai-nilai baik yang ada pada orang yang melukai kita, dan belajar memahami dari perspektif orang tersebut, meski ini tidaklah mudah.

Sadarilah bahwa ada kalanya Anda tidak sanggup memikul akibat itu sendirian. Anda perlu membagikan kesusahan dan penderitaan Anda pada seseorang yang Anda percayai. Ada kalanya Anda frustasi menghadapi kenyataan itu dan kadang menjadi begitu sayang diri. Misal, muncullah pertanyaan: "mengapa saya harus mengalami hal ini?" Kita juga perlu ingat bahwa masa lalu adalah kenyataan yang tidak dapat diubah, kita harus belajar menerimanya dan bahkan menjadikannya bagian penting dari pembentukan diri kita seutuhnya. Dengan kesadaran ini akan muncul kekuatan dan kemauan untuk membangun kembali hubungan dengan orang yang sudah melukai kita. Pengampunan berarti kita membuka dan membangun kembali hubungan yang sudah rusak dan retak tadi.

Kadang juga timbul kemarahan. Kita tidak mau menjadi korban dari kesalahan orang lain.

Anda mulai menerima kenyataan Anda terluka dan harus menghadapi secara riil. Pada tahap ini Anda berusaha menjadi pribadi yang tetap bahagia meski mengalami kesusahan akibat ulah orang lain. Satu hal yang kita syukuri adalah bahwa pengalaman terluka ini akan membuat kita punya kekuatan untuk menghadapi luka yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dalam sebuah relasi yang dekat dan kuat akan selalu ada kemungkinan untuk kita saling mengecewakan.

BEBERAPA LANGKAH PRAKTIS UNTUK MEMAAFKAN

  1. Mengakui kebutuhan Anda untuk disembuhkan.
  2. Mengakui emosi yang negatif.
  3. Belajar mengampuni.

Bagi banyak orang hal ini bukan masalah, tetapi jika kita terluka dan tidak mengakui, maka jelas tidak ada tempat untuk pertolongan. Mengakui kebutuhan kita merupakan suatu tanda kesehatan mental yang baik dan bukti sikap yang jujur. Seringkali kita ingin mengakui tapi kita takut untuk ditolak. Kerelaan untuk belajar dan kerendahan hatilah yang akan mengizinkan kesembuhan dimulai. Mulailah bersikap jujur dengan Allah, kemudian cari teman yang bisa mengerti keadaan Anda. Kejujuran akan mendatangkan kasih karunia Allah dalam hidup kita.

Beberapa di antara kita mengarungi kehidupan dengan mengumpulkan emosi yang negatif. Kita tidak diajarkan bagaimana mengenali atau mengkomunikasikan perasaan kita sehingga kita menimbun kemarahan, kekecewaan, ketakutan, kepahitan, dan emosi negatif lain sejak anak-anak. Kita menindih emosi negatif yang satu di atas yang lain, sama seperti menumpuk sampah. Proses penimbunan emosi ini menimbulkan akibat yang tragis.

Emosi itu sendiri bukanlah dosa. Emosi dapat menghasilkan sikap berdosa jika diarahkan dengan cara yang negatif kepada Allah, diri sendiri, dan orang lain. Untuk memutuskan lingkaran penindasan emosi mintalah Allah untuk memberi Anda kesempatan untuk mengungkapkannya kepada orang yang mengerti Anda dan memberikan dorongan untuk jujur dengan perasaan Anda.

Mengampuni bukan sekadar melupakan kesalahan yang dilakukan seseorang terhadap kita. Mengampuni berarti memaafkan orang untuk kesalahan yang telah diperbuatnya. Mengampuni berarti menunjukkan kasih dan penerimaan, meskipun disakiti. Mengampuni seringkali merupakan suatu proses dan bukan suatu tindakan 'sekali jadi'.

Pengampunan adalah membuat keputusan secara sadar untuk berhenti membenci karena kebencian itu sama sekali tidak ada gunanya. Kita terus mengampuni sampai rasa sakit itu hilang. Semakin dalam lukanya, semakin besar energi atau daya pengampunan itu diperlukan. Memaafkan bukanlah tindakan yang dilakukan kadang-kadang saja, melainkan merupakan sikap yang permanen. Sama seperti seorang dokter harus membersihkan luka di tubuh kita dan menjaga agar jangan terkena infeksi supaya dapat sembuh dengan baik. Begitu pula kita harus menjaga kebersihan luka-luka batin kita dari kepahitan supaya luka itu cepat sembuh.

Mengampuni adalah antiseptik bagi luka batin kita. Jika kita sudah menerima pengampunan secara cuma-cuma oleh kurban Kristus, Tuhan meminta kita memaafkan sesama kita yang bersalah kepada kita. Tetapi itu tidak cukup. Sang Penebus, meminta kita menjadi "agen" penebus yang mendistribusikan kasih dan pengampunan-Nya itu kepada sebanyak mungkin orang. Inilah tugas konseling. Anda dipanggil untuk melatih sesama mengampuni sesamanya.

Akhirnya, menerima maaf melegakan hati. Memaafkan diri sendiri itu sehat. Memaafkan sesama, itu ilahi. Melatih orang memaafkan itu mulia. Membantu orang menerima pengampunan Tuhan, itu memberinya hidup kekal.

http://sabda.org/c3i/node/6749

Halaman: 61 -- 62 dan 64 -- 66
Judul Artikel:
Mencinta Hingga Terluka, Seni Memaafkan Sesama

Judul Buku:
Perlengkapan Seorang Konselor

Pengarang:
Julianto Simanjuntak

Penerbit:
Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3)

Kota:
Jakarta
Tahun:
2007

Sunday, June 7, 2009

Jiwa Yang Terluka 3

MASUKNYA ROH JAHAT

oleh: Pdt Gilbert Lumindong

I Tawarikh 4:9-10

PENDAHULUAN

Setan paling senang melihat orang-orang yang jiwanya terluka. Oleh karena itu, setan adalah perancang yang hebat untuk membuat jiwa terluka.

Dalam keluarga

- Mulai dari keluarga, yaitu orang tua terhadap anaknya. Setan mau membuat supaya orang tua menyakiti anaknya. Dan orang tua tidak sadar bahwa dia menyakiti anaknya. Mungkin tujuannya baik yaitu untuk mendidik, tetapi setan bisa membelokkan dengan kata-kata yang menyakitkan. Jiwa yang terluka dari orang tua terhadapa anaknya ini bisa dimulai dari dalam kandungan.
- Suami terhadap istri atau istri terhadap suami. Masing-masing tidak menyadari kalau dia menyakiti pasangannya. Walau suami atau istri merasa benar, belum tentu dia tidak menyakiti pasangannya tersebut.
- Kedua hal di atas adalah rancangan setan yang paling utama dalam menghancurkan keluarga. Kemudian selanjutnya adalah :
- Mertua menyakiti menantu atau menantu menyakiti mertuanya.
- Ketika mulai besar, anak mulai menyakiti orang tuanya

Dalam Gereja


Disakiti oleh sesama pengerja, disakiti oleh hamba Tuhan, jemaat disakiti oleh gembala, dll. Tujuannya adalah supaya orang-orang yang melayani mempunyai hati yang luka sehingga khotbah yang disampaikan atau yang dia dengarpun menjadi khotbah yang penuh dengan kebencian. Karena orang yang hatinya luka baik sikap, perbuatan, kata-kata maupun konsep berpikirnya sudah berbeda sehingga di dalam melayani Tuhan, tidak dengan potensi maksimal.

Dalam pekerjaan dan pergaulan.

Disakiti oleh atasan, disakiti oleh teman-temannya, dll.
Orang yang hatinya bersih, akan penuh dengan kemuliaan sehingga sangat berbahaya bagi setan karena Firman Tuhan dalam Amsal 4:23 menjelaskan, ”jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan”.

Di dalam 1 Tawarikh 4:9-10 menceritakan tentang Yabes. Yabes artinya ”aku telah melahirkan dia dengan kesakitan”. Atau dalam bahasa Ibrani, terjemahan bebasnya adalah ”sumber masalah”. Orang yang mempunyai nama seperti itu pasti mempunyai jiwa yang terluka.

Tetapi di dalam ayat 10 dijelaskan bahwa Yabes berseru kepada Tuhan dan Tuhan mengabulkan permintaannya. Jadi walaupun kita mempunyai jiwa yang terluka, tetapi kalau kita mau berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengabulkan permintaan kita.
Jiwa yang terluka sebenarnya adalah bagian dari penyaliban daging (Roma 6:6; Galatia 2:9-10, Galatia 1:6-10), yang menuntun kita dalam kesempurnaan. Namun ketidaksiapan untuk menerima “jiwa yang terluka,” membuka pintu untuk kuasa-kuasa kegelapan masuk dalam kehidupan.

JIWA YANG TERLUKA (Mark. 5:1-7)

Di dalam Markus 5:1-7 menceritakan tentang seorang yang dimasuki oleh roh jahat yang tinggal di pekuburan. Orang ini awalnya adalah orang yang jiwanya luka. Tingkatan orang yang jiwanya luka :
- Jiwa dan karakternya aneh
- Mempunyai jiwa pemberontak
- Jiwanya stress dan labil
- Dimasuki roh jahat


Ciri-ciri jiwa yang terluka yang sudah dimasuki roh jahat :

1. Tidak dapat diatur (ay. 3-4).
Tidak bisa ditegur dan maunya seenaknya saja.

2. Senang dengan hal-hal gaib (ay. 5)
Senang dengan hal yang aneh-aneh, misalnya mendengarkan dan percaya dengan feng sui, hong sui dan horoskop, senang ke dukun, senang film-film horor, dll.

3. Senang berteriak-teriak (ay. 5)
Kalau marah atau ada persolaan, suka berteriak-teriak, senang dengan musik-musik keras, dll.

4. Selalu berusaha untuk merusak diri sendiri (ay. 5)
Orang yang jiwanya terluka suka merusak diri sendiri misalnya dengan narkoba, tidak memperdulikan sekolah, dll.

5. Tetap dapat berhubungan dengan kegiatan-kegiatan rohani tapi sering buat tindakan aneh (ay. 6)
Bisa saja masuk gereja tetapi selalu gelisah, tidak fokus dalam ibadah, dll.

6. Selalu meragukan kasih Tuhan dan selalu merasa tersiksa (ay. 7).
Di dalam mengiring Tuhan, selalu merasa tersiksa karena mau berbuat sesuatu tetapi tidak boleh, berbuat yang aneh-aneh dalam pelayanan, dll.

III. MENGAPA ROH JAHAT DAPAT MASUK

1. Karena tidak adanya pengampunan
Jiwa bisa terluka karena waktu menghadapi masalah, tidak saling mengampuni. Tidak semua masalah bisa mengakibatkan jiwa yang luka. Yusuf bisa saja mempunyai jiwa yang luka karena dibuang dan dijual oleh kakak-kakaknya, kemudian difitnah dan dipenjara. Tetapi Yusuf mengerti kehendak Allah dalam hidupnya.

2. Karena tidak mau pasrah pada Tuhan
Tidak ada satu utas rambutpun di kepala kita dapat jatuh tanpa seijin Tuhan. Jika Tuhan ijinkan masalah terjadi, berati ada maksud Tuhan. Oleh karena itu kita harus pasrah.

3. Karena menyimpan kebencian dan kepahitan
Jiwa bisa menjadi luka, kalau kita terus memikirkan kepahitan dan kebencian.

4. Karena tidak mau menundukkan “pemberontakan” daging
Tidak mau menyalibkan daging.

5. Karena tidak melihat rencana Tuhan
Kita tidak memakai ”kaca mata” Tuhan, tetapi kita memakai ”kaca mata” sendiri sehingga kita tidak dapat melihat rencana Tuhan yang dahsyat. Karena kalau kita melihat dengan “kaca mata” sendiri, yang kelihatan adalah kepahitan dan sakit hati.

Created : 01 November 2006 - 07:39
JIWA YANG TERLUKA &
MASUKNYA ROH JAHAT
I Tawarikh 4:9-10
I. PENDAHULUAN
Setan paling senang melihat orang-orang yang jiwanya terluka. Oleh karena itu, setan adalah perancang yang hebat untuk membuat jiwa terluka.
Dalam keluarga
- Mulai dari keluarga, yaitu orang tua terhadap anaknya. Setan mau membuat supaya orang tua menyakiti anaknya. Dan orang tua tidak sadar bahwa dia menyakiti anaknya. Mungkin tujuannya baik yaitu untuk mendidik, tetapi setan bisa membelokkan dengan kata-kata yang menyakitkan. Jiwa yang terluka dari orang tua terhadapa anaknya ini bisa dimulai dari dalam kandungan.
- Suami terhadap istri atau istri terhadap suami. Masing-masing tidak menyadari kalau dia menyakiti pasangannya. Walau suami atau istri merasa benar, belum tentu dia tidak menyakiti pasangannya tersebut.
- Kedua hal di atas adalah rancangan setan yang paling utama dalam menghancurkan keluarga. Kemudian selanjutnya adalah :
- Mertua menyakiti menantu atau menantu menyakiti mertuanya.
- Ketika mulai besar, anak mulai menyakiti orang tuanya

Dalam Gereja
Disakiti oleh sesama pengerja, disakiti oleh hamba Tuhan, jemaat disakiti oleh gembala, dll. Tujuannya adalah supaya orang-orang yang melayani mempunyai hati yang luka sehingga khotbah yang disampaikan atau yang dia dengarpun menjadi khotbah yang penuh dengan kebencian. Karena orang yang hatinya luka baik sikap, perbuatan, kata-kata maupun konsep berpikirnya sudah berbeda sehingga di dalam melayani Tuhan, tidak dengan potensi maksimal.
Dalam pekerjaan dan pergaulan.
Disakiti oleh atasan, disakiti oleh teman-temannya, dll.
Orang yang hatinya bersih, akan penuh dengan kemuliaan sehingga sangat berbahaya bagi setan karena Firman Tuhan dalam Amsal 4:23 menjelaskan, ”jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan”.
Di dalam 1 Tawarikh 4:9-10 menceritakan tentang Yabes. Yabes artinya ”aku telah melahirkan dia dengan kesakitan”. Atau dalam bahasa Ibrani, terjemahan bebasnya adalah ”sumber masalah”. Orang yang mempunyai nama seperti itu pasti mempunyai jiwa yang terluka.
Tetapi di dalam ayat 10 dijelaskan bahwa Yabes berseru kepada Tuhan dan Tuhan mengabulkan permintaannya. Jadi walaupun kita mempunyai jiwa yang terluka, tetapi kalau kita mau berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengabulkan permintaan kita.
Jiwa yang terluka sebenarnya adalah bagian dari penyaliban daging (Roma 6:6; Galatia 2:9-10, Galatia 1:6-10), yang menuntun kita dalam kesempurnaan. Namun ketidaksiapan untuk menerima “jiwa yang terluka,” membuka pintu untuk kuasa-kuasa kegelapan masuk dalam kehidupan.

II. JIWA YANG TERLUKA (Mark. 5:1-7)
Di dalam Markus 5:1-7 menceritakan tentang seorang yang dimasuki oleh roh jahat yang tinggal di pekuburan. Orang ini awalnya adalah orang yang jiwanya luka. Tingkatan orang yang jiwanya luka :
- Jiwa dan karakternya aneh
- Mempunyai jiwa pemberontak
- Jiwanya stress dan labil
- Dimasuki roh jahat
Ciri-ciri jiwa yang terluka yang sudah dimasuki roh jahat :
1. Tidak dapat diatur (ay. 3-4).
Tidak bisa ditegur dan maunya seenaknya saja.
2. Senang dengan hal-hal gaib (ay. 5)
Senang dengan hal yang aneh-aneh, misalnya mendengarkan dan percaya dengan feng sui, hong sui dan horoskop, senang ke dukun, senang film-film horor, dll.
3. Senang berteriak-teriak (ay. 5)
Kalau marah atau ada persolaan, suka berteriak-teriak, senang dengan musik-musik keras, dll.
4. Selalu berusaha untuk merusak diri sendiri (ay. 5)
Orang yang jiwanya terluka suka merusak diri sendiri misalnya dengan narkoba, tidak memperdulikan sekolah, dll.
5. Tetap dapat berhubungan dengan kegiatan-kegiatan rohani tapi sering buat tindakan aneh (ay. 6)
Bisa saja masuk gereja tetapi selalu gelisah, tidak fokus dalam ibadah, dll.
6. Selalu meragukan kasih Tuhan dan selalu merasa tersiksa (ay. 7).
Di dalam mengiring Tuhan, selalu merasa tersiksa karena mau berbuat sesuatu tetapi tidak boleh, berbuat yang aneh-aneh dalam pelayanan, dll.

III. MENGAPA ROH JAHAT DAPAT MASUK

1. Karena tidak adanya pengampunan
Jiwa bisa terluka karena waktu menghadapi masalah, tidak saling mengampuni. Tidak semua masalah bisa mengakibatkan jiwa yang luka. Yusuf bisa saja mempunyai jiwa yang luka karena dibuang dan dijual oleh kakak-kakaknya, kemudian difitnah dan dipenjara. Tetapi Yusuf mengerti kehendak Allah dalam hidupnya.

2. Karena tidak mau pasrah pada Tuhan
Tidak ada satu utas rambutpun di kepala kita dapat jatuh tanpa seijin Tuhan. Jika Tuhan ijinkan masalah terjadi, berati ada maksud Tuhan. Oleh karena itu kita harus pasrah.

3. Karena menyimpan kebencian dan kepahitan
Jiwa bisa menjadi luka, kalau kita terus memikirkan kepahitan dan kebencian.

4. Karena tidak mau menundukkan “pemberontakan” daging
Tidak mau menyalibkan daging.

5. Karena tidak melihat rencana Tuhan
Kita tidak memakai ”kaca mata” Tuhan, tetapi kita memakai ”kaca mata” sendiri sehingga kita tidak dapat melihat rencana Tuhan yang dahsyat. Karena kalau kita melihat dengan “kaca mata” sendiri, yang kelihatan adalah kepahitan dan sakit hati.

IV. MENUTUP PINTU & MEMBERESKAN

1. Sadari bahwa jiwa kita terluka
Yang pertama kita harus menyadari dahulu bahwa jiwa kita terluka.

2. Siap membereskan dan siap untuk bangkit
Setelah menyadari jiwa yang terluka, kita harus membereskannya dan mengobatinya. Setelah itu kita harus bangkit untuk memandang ke depan bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam kehidupan kita.

3. Ampuni setiap orang yang menjadi penyebab
Peperangan kita bukan melawan darah dan daging. Jadi Tuhan mengijinkan orang-orang yang menyakiti hati untuk membersihkan kehidupan kita sehingga rencana Tuhan dapat terjadi dalam kehidupan kita.

4. Berseru pada Tuhan
Yabes tidak memperdulikan sakit hatinya, melainkan dia berseru kepada Tuhan. Oleh karena itu, jika kita berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan kelegaan dan kekuatan dalam menghadapi setiap pencobaan.

5. Harapkan hal-hal yang dahsyat dari Tuhan
Yabes yang walaupun disebut sebagai “sumber masalah”, berdoa dan mengharapkan hal-hal yang dahsyat dari Tuhan.

V. PENUTUP

Setiap orang bisa saja menghadapi “luka-luka” namun menanggapi dengan cara yang tepat menuntun kita menjadi orang-orang yang dahsyat bagi Tuhan.

Refleksi :
Tuhan tidak menjaga kita supaya tidak terluka, tetapi Tuhan memakai luka-luka tersebut untuk menyalibkan daging kita agar kemuliaan Tuhan nyata dalam kehidupan kita.

Doa :
Tuhan, kalau ada luka di hatiku, sembuhkan dan bersihkanlah supaya aku dapat melayaniMu dengan hati yang bersih sehingga kemuliaan Tuhan nyata dalam hidupku. Terima kasih Tuhan. Amin.(dan/emm)


Saturday, June 6, 2009

Jiwa yang Terluka 2

Pemberontakan

Bilangan 14:1-10


I. Pendahuluan

Setiap orang pasti pernah menghadapi orang-orang yang memberontak, seperti anak-anak, suami atau istri, dll.

Di dalam Bilangan 14:1-10 menceritakan tentang orang-orang Israel yang sering bersungut-sungut. Orang yang jiwanya luka, cenderung menjadi seorang pemberontak. Seperti orang Israel menjadi pemberontak karena sebelumnya mereka menjadi budak di Mesir. Mental mereka adalah mental seorang budak yang sering disakiti baik tubuh maupun jiwa sehingga jiwa mereka terluka. Pikiran mereka cenderung menjadi pikiran yang ”pendek”.

Di dalam Bil. 14:5-10 menceritakan mengenai keberanian Yosua dan Kaleb. Dua orang yang tidak mempunyai jiwa pemberontak, yang menyerukan kepada bangsa Israel bahwa ”Tuhan akan memberikan suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya, hanya janganlah memberontak”. Artinya anugerah, mujizat dan kemenangan adalah pasti, tetapi jangan memberontak. Jika ada tantangan dan persoalan, kadangkala bukan Tuhan tidak menjawab dan menolong tetapi karena Tuhan sedang membentuk kita untuk menjadi pribadi yang luar biasa dan menjadi segambar dan serupa dengan Dia. Hanya seringkali baru setengah jalan, kita sudah bersungut-sungut dan mau menyerah bahkan memberontak padahal yang tahu kekuatan kita adalah Tuhan sendiri dan Tuhan tidak akan mengijinkan persoalan itu melebihi kekuatan kita.

Lebih lanjut di dalam ay. 10 dijelaskan bahwa orang Israel hendak melempari Yosua dan Kaleb dengan batu, tetapi karena Yosua, Kaleb dan Musa adalah orang-orang yang tidak memberontak, maka kemuliaan Tuhan memenuhi tempat tersebut sehingga orang-orang Israel tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka. Selama kita berjalan dalam ketaatan, kemuliaan Tuhan akan memenuhi kehidupan kita.

II. Definisi

Sebuah suasana hati yang melanda seseorang di mana mengakibatkan ketidaksenangan, ketidakinginan untuk patuh pada aturan yang berlaku dan cenderung untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan-kebiasaan yang ada.

III. Jenis-jenis Pemberontakan

1. Pemberontakan yang tidak disadari.
Pemberontakan yang ada di dalam diri seseorang tanpa disadarinya, hanya terlihat dari sikap dan perbuatannya yang cenderung sulit dimengerti.

2. Pemberontakan keseharian.
Pelaku mulai berontak dalam hal-hal sederhana dalam keseharian seperti malas berdoa, tidak mau ke gereja atau menolak melayani, dll.

3. Pemberontakan prinsip.
Kecenderungan pemberontakan mulai lebih berat karena ia begitu yakin bahwa Tuhan telah meninggalkannya.

4. Pemberontakan mendalam.
Keadaan pemberontakan yang berat di mana seorang secara sadar merasa tertolak dan kecewa terhadap segala keadaan bahkan terhadap Tuhan. Dalam tingkatan ini biasanya pelaku merasa Tuhan tidak ada.

IV. Penyebab Pemberontakan

A. TIDAK DIKETAHUI

1. Hal-hal yang terjadi sebelum lahir.
Misalnya orang tuanya pernah menyerahkan janinnya kepada dukun-dukun, paranormal atau kuasa-kuasa kegelapan lainnya atau juga sebelum lahir sudah mulai dikutuk oleh orang tuanya karena kelahiran yang tidak diharapkan, dll.

2. Hal-hal yang terjadi di masa usia kanak-kanak.
Pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh lingkungannya. Misalnya pernah dipukul dengan ”membabi-buta” oleh orang tuanya, pernah dilecehkan oleh saudara-saudaranya atau pernah diperkosa, dll.

B. DIKETAHUI.

1. Karena merasa disakiti dan dikecewakan.
Terus menerus disakiti dan dikecewakan.

2. Karena menyimpulkan hal-hal negatif dalam pikiran.
Kalau di tegur, selalu menganggap bahwa orang yang menegur tersebut tidak senang atau kalau yang menegur adalah orang tuanya, orang tuanya tidak sayang lagi, dll.

3. Karena menghadapi situasi yang serba salah.
Artinya selalu ada dalam posisi yang serba salah sehingga apapun yang terjadi bersikap ”masa bodoh”.

4. Karena amarah yang mendalam, yang tidak terselesaikan.
Ada kekecewaan atau amarah terhadap orang lain yang tidak diselesaikan tetapi disimpan dan dipendam dalam hati.

5. Karena mendendam di hati.
Menyimpan dendam di dalam hati sehingga nampak dalam perbuatan kesehariannya maupun dalam cara berpikirnya.

V. Akibat-akibat Pemberontakan

1. Melakukan tindakan-tindakan aneh yang berbahaya.
Orang-orang yang ada benih pemberontakan selalu ingin melakukan hal-hal yang aneh dan berbahaya di dalam hidupnya. Misalnya melakukan ”olahraga” yang berbahaya, dll.

2. Menyukai hal-hal yang jahat tidak normal.
Bagi orang yang jiwanya pemberontak, melakukan kejahatan dianggap normal dan menyenangkan.

3. Cenderung menarik perhatian orang.
Orang yang mempunyai jiwa pemberontak sangat senang menarik perhatian orang lain misalnya dengan melakukan hal-hal yang aneh.

4. Senang melanggar aturan yang berlaku.
Orang yang jiwanya pemberontak, senang dan bahkan bangga kalau bisa melanggar aturan-aturan yang ada.

5. Menolak hal-hal yang sifatnya rohani.
Tidak senang dan tidak tertarik dengan hal-hal yang sifatnya rohani.

VI. Pandangan Alkitab

Alkitab penuh dengan pandangan “Tunduklah”, “Takutlah”, dan “Taatilah”. Karena dalam Alkitab kita digambarkan sebagai pribadi yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Yesus (Yoh. 15:5). Namun jika kita setia untuk hal yang kecil, Tuhan mau memberkati kita dalam perkara yang besar (Mat. 25:21).

1. Kita harus tunduk pada Allah (Yak. 4:7)
Alkitab menjelaskan, “tunduklah pada Allah dan lawanlah iblis”. Artinya kalau kita tidak tunduk pada Allah, maka kita tidak mempunyai kuasa untuk melawan iblis.

2. Kita harus tunduk pada pemimpin (Ibr. 13:17)
Firman Tuhan menjelaskan, “taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka...”.

3. Kita harus tunduk pada orang tua (1 Pet. 5:5)
Firman Tuhan dengan jelas menegaskan, ”..tunduklah kepada orang-orang yang tua...”.

4. Kita harus tunduk pada lembaga manusia (1 Pet. 2:13-14)
Kita harus tunduk kepada aturan-aturan yang berlaku di negara kita.

5. Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan (Mat. 23:12)
Untuk bisa taat, dibutuhkan kerendahan hati sehingga akan ditinggikan oleh Tuhan. Namun sebaliknya, kalau memberontak dan sombong, kita akan direndahkan oleh Tuhan.

VII. Menundukkan Pemberontakan

1. Sadari mengapa pemberontakan itu terjadi.
Kalau kita menyadari dari mana pemberontakan itu terjadi, maka dari situlah kita mulai menundukkan pemberontakan tersebut.

2. Sadari bahwa di balik kepahitan hidup ada kemanisan rencana Allah.
Walaupun kita mengalami kepahitan hidup, kita harus bersyukur karena dibalik kepahitan itu, ada kemanisan rencana Allah bagi kehidupan kita.

3. Sadari pemberontakan hanya membawa kehancuran.
Pemberontakan tidak akan menolong kita dalam mencapai kehendak Allah, tetapi justru akan membawa kehancuran, kegagalan dan penderitaan.

4. Mulai tunduk pada Allah dan mohon bimbinganNya.
Setelah kita menyelesaikan atau “membereskan” masalah pemberontakan tersebut, mulailah taat dan tunduk pada Allah dan mohon bimbinganNya.

5. Hormati orang di sekitar kita.
Mulailah belajar untuk menghormati orang lain. Walaupun orang lain menyakiti hati kita, ingatlah Firman Tuhan bahwa ”besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya”.

6. Sadari bahwa ada upah bagi setiap mereka yang mau merendahkan diri.
Kalau kita merendahkan diri karena Kristus, ada upah atau ada berkat yang tersedia bagi kita.

VIII. Penutup

Pemberontakan selalu terjadi karena kekecewaan dan kemarahan seseorang tentang kondisi yang terjadi, namun ingatlah pemberontakan hanya menambah persoalan. Tetapi dengan ketaatan pada Allah, kita akan melihat kemenangan besar.

Refleksi :
Pemberontakan hanya menuntun kita kepada kehancuran, tetapi ketaatan menuntun kita kepada kemuliaan. Mulai pandang ke depan melihat kemuliaan Allah yang luar biasa. Mulai rancangkan hal-hal yang baik dalam hidup ini.


Doa :
Bapa, kami tahu Tuhan tidak pernah gagal dan tidak ada perkara yang mustahil bagiMu. Jamahlah hidup kami, jadikan kami indah di hadapanMu. Kalau ada pemberontakan di dalam kehidupan kami, lepaskanlah sekarang. Berilah damai sejahtera, ketenangan dan sukacita dalam kehidupan kami.

Friday, June 5, 2009

Jiwa yang Terluka 1

Created : 09 Oktober 2006 - 03:24
JIWA YANG TERLUKA
Hakim-hakim 11:1-11

PENDAHULUAN

Di dalam Hakim-hakim 11 ini, kita belajar mengenai Yefta. Disebutkan bahwa Yefta adalah seorang pahlawan. Siapapun kita, kita harus menjadi pahlawan dimanapun kita berada, karena kekristenan membutuhkan pahlawan. Seorang pahlawan adalah seorang yang bertahan hingga akhir. Rancangan Tuhan dalam hidup kita adalah supaya kita menjadi pahlawan.

Meskipun Yefta adalah seorang pahlawan, tetapi dia juga punya masalah. Kemenangan terjadi bukan karena tidak menghadapi masalah, tetapi kita mampu mengatasi setiap masalah. Masalah Yefta adalah ia adalah anak seorang perempuan sundal. Di dalam ayat 2, dijelaskan, ”...engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain”. Meskipun ia punya masalah yaitu sebagai anak perempuan sundal dan sebelumnya seorang yang kuat menghadapi peperangan, namun ketika masalah itu datang terus menerus, Yefta tidak dapat bertahan sehingga dia jatuh menjadi seorang perampok. Di dalam ayat 3 dijelaskan, ”maka larilah Yefta...”. Seorang pahlawan yang seharusnya berani, berkemenangan dan bertahan dalam peperangan, tetapi kenyataannya Yefta melarikan diri. Oleh karena itu, sebagai anak Tuhan, kita tidak boleh seperti Yefta yang melarikan diri tersebut. Apapun masalah dan pergumulan kita, jangan melarikan diri, tetapi tetaplah bertahan dan menghadapinya, karena semakin kita lari, masalah akan semakin mengejar kita. Namun semakin kita berdiri tegar, maka kita akan melihat mujizat. Lebih lanjut dalam ayat 4 dijelaskan, ”berkumpullan kepadanya.....”. Inilah salah satu kelicikan iblis dimana ketika kita lari dari masalah, setan akan mengirim ”orang-orang gila” kepada kita.

Di dalam ayat 6-7 diceritakan mengenai tua-tua Gilead yang pergi menjemput Yefta dari tanah Tob. Hal ini menggambarkan bahwa walapun iblis mempunyai program untuk menghancurkan, namun Tuhan mempunyai program yang luar biasa untuk menyelamatkan.

Keseluruhan cerita ini menceritakan tentang seorang pahlawan yang menghadapi masalah yang terus menekan hidupnya sehingga jiwanya terluka kemudian menjadi seorang perampok. Namun Tuhan memulihkan kehidupannya sehingga kembali menjadi seorang pahlawan yang luar biasa. Hal ini mengajarkan bahwa masa lalu kita yang buruk sekalipun, tidak boleh merusak masa depan kita. Karena hari kemarin adalah pelajaran, hari ini adalah kehidupan dan hari esok adalah kemenangan.

Allah mau agar hidup kita maksimal, namun seringkali manusia hanya meraih 10 persen potensi dalam hidupnya. Salah satu penghambat bagi seseorang untuk masuk dalam kapasitas maksimal adalah luka dalam jiwanya.

Yang berakibat :
1.Minder.
2.Broken Character.Menjadi orang yang sombong, iri, cepat putus asa, cepat kecewa, dll.
3.Pemberontak.Orang yang mempunyai jiwa pemberontak, kalau ditelusuri seringkali karena adanya luka hati.


Ada tiga hal penting yang harus kita ketahui yaitu :

a.Masalah harus dihadapi
b.Luka harus diobati
c.Setan harus diusir.
4.Cenderung possessive.

Menjadi orang yang ”cemburuan”, sangat ingin menguasai segala sesuatu dan menjadi orang yang harus memiliki sesuatu yang diinginkannya karena berhubungan dengan harga dirinya.
5.Terikat kekuatiran dan ketakutan.Pikirannya terus dibelenggu oleh kekuatiran dan ketakutan.


PENYEBAB

Iblis senang agar manusia memiliki hati yang terluka sehingga tidak bisa mencapai kehendak Allah yang maksimal.
Ada beberapa panah penyebab luka hati.

1.Kesalahan-kesalahan orang tua pada anaknya (rencana aborsi, kekerasan, kebencian, keacuhan, dll).Untuk rencana aborsi, anak tersebut memang tidak tahu, namun ia selalu mempunyai kecenderungan untuk melawan orang tuanya. Untuk mengobatinya, anak itu harus sering dipeluk dan adanya ungkapan-ungkapan sayang dari orang tuanya.

2.Terbiasa dibanding-bandingkan.Selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain seperti dengan adik atau kakaknya, dengan temannya, dll. Hal ini akan menyebabkan anak itu tidak punya harga diri sehingga menimbulkan luka hati.

3.Memiliki pengalaman-pengalaman yang mempermalukan.Mungkin pernah diperkosa, mengalami pelecehan seksual, dihamili oleh kekasihnya dan ditinggalkan, dll. Ini menimbulkan luka-luka yang dalam.

4.Direndahkan dan dipermalukan di muka umum.Sebagai contoh, suami atau istri yang dipermalukan oleh istri atau suaminya didepan umum atau didepan teman-temannya, dll.

5. Disakiti terus menerus yang berakibat dendam.Ketika disakiti, mungkin awalnya dianggap normal, tetapi karena tidak mengampuni atau ditumpuk-tumpuk/”disimpan” sehingga lama kelamaan menjadi penyakit.

6. Patah hati/trauma.Misalnya orang yang sudah lama berpacaran dan sudah mau menikah, tiba-tiba ditinggalkan pacarnya. Ataupun ada trauma-trauma lainnya.

7. Ditolak/tertolak.Pernah ditolak atau tertolak oleh teman-temannya dan lingkungannya.


SIKAP JIWA YANG TERLUKA

1.Cenderung tertutup.Menjadi orang yang tidak bisa terbuka kepada orang lain (introvert)

2.Mudah mengkritik.Menjadi orang yang suka mengkritik. Memang ada kritik yang membangun tetapi ada juga orang yang mengkritik karena suka mencari-cari kesalahan orang lain.

3.Tidak ada semangat juang.Tidak ada semangat untuk berjuang, selalu mencari jalan pintas, menjadi penjilat, pengkhianat, dll.

4.Sikapnya cenderung aneh/mencari perhatian.Senang mencari perhatian orang lain.

5.Sulit menjaga komitmen (tidak mudah percaya).Orang yang jiwanya terluka, beranggapan bahwa semua orang selalu ingin menyakiti hatinya.

6.Moody.Orang yang jiwanya terluka itu ”angin-anginan”.


PENYEMBUHAN JIWA YANG TERLUKA

1.Mau menyadari luka-luka dalam jiwanya.Jangan menyalahkan orang lain. Yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menyadari luka dalam jiwanya. Tidak orang yang bisa sembuh kalau tidak menyadari lebih dahulu. Contoh : kita tidak akan datang ke dokter gigi kalau kita tidak menyadari sesuatu yang salah dalam gigi kita.

2.Mau bangkit dan keluar dari luka.Jangan pasrah tetapi kita harus bangkit dan keluar dari luka tersebut.

3.Mau belajar dan berjuang.Waktu Yefta disakiti oleh saudara-saudaranya, ia belajar dan berjuang untuk bangkit.

4.Mau menerima dan memberi pengampunan.Yusuf berkata, ”kamu mereka-rekakan yang jahat, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan...,” (Kej. 50:20). Jadi Yusuf dapat menerima perlakuan buruk dari kakak-kakaknya sehingga dapat memberikan pengampunan. Sebelum mengampuni, luka tidak akan sembuh.

5.Mau menyadari harga hidupnya.Menyadari bahwa hidup kita berharga di mata Tuhan.


PENUTUP

Jiwa yang terluka yang tidak diatasi akan dipakai iblis untuk menghancurkan.
Jiwa yang terluka yang diobati akan dipakai Yesus untuk kemuliaanNya.
Refleksi :
Kita dilahirkan bukan untuk menderita dan sengsara, bukan juga untuk menjadi penghambat karena mempunyai karakter yang tidak baik yang disebabkan oleh luka dalam jiwa kita, tetapi kita dilahirkan untuk menjadi pahlawan agar menyatakan kemuliaan Tuhan bagi dunia.


Doa :
Bapa, kami menyadari bahwa kami diciptakan Tuhan sebagai pahlawan yang merebut kemenangan, penuh dengan mujizat dan melihat perkara-perkara besar dalam hidup ini. Oleh sebab itu jika ada luka dalam jiwa kami, jamahlah dengan kasihMu, balut dan pulihkanlah jiwa kami.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...