Blog ini adalah koleksi artikel dari website... dan untuk kegunaan sendiri saja... "KETERBUKAAN adalah awal dari PEMULIHAN..."
Tuesday, June 14, 2011
Sunday, December 19, 2010
“Kelahiran Yesus Mengubah Kehidupan Manusia – (2)"
“Kelahiran Yesus Mengubah Kehidupan Manusia – (1)”
Monday, December 13, 2010
Iman Yang Menyelamatkan
Iman Yang Menyelamatkan
Friday, December 3, 2010
Jangan membiarkan kepahitan Mengakar dalam diri anda
Bacaan: Ibrani 12:14-15
Kita sering mengalami sesuatu yang tidak adil atau perlakuan yang tidak baik, ini merupakan bagian dari kehidupan nyata. Ketika kita diperlakukan tidak adil oleh orang lain, kita dapat memilih untuk menanggung penderitaan itu sehingga menjadi kepahitan dalam diri kita (tumbuh akar yang pahit), atau kita dapat memilih membiarkan itu berlalu dan mempercayai Tuhan untuk membuat keadilan bagi kita.
Menurut penelitian 70% orang saat ini marah terhadap sesuatu. Angka 70% menunjukkan bahwa 7 dari 10 orang yang kita temui akan menjadi marah. Ini tidak termasuk orang-orang yang lalu lalang di jalan.
Orang yang menjadi tempat berlabuh kemarahan sering tidak menyadarinya hal ini, tetapi mereka terus menerus meracuni kehidupan mereka sendiri dengan rasa marah. Bila kita tidak memaafkan, mungkin kita tidak sedang menyakiti orang lain, mungkin kita tidak sedang menyakiti instansi di mana kita bekerja yang memperlakukan kita dengan salah, kita tidak menyakiti Tuhan, tetapi kita sedang menyakiti diri kita sendiri.
Kalau kita ingin menjalani kehidupan terbaik kita saat ini, kita harus dengan cepat memaafkan. Belajar untuk membiarkan luka-luka kepahitan dan penderitaan masa lalu berlalu. Jangan membiarkan kepahitan mengakar dalam diri kita dan hidup kita. Mungkin sesuatu terjadi pada kita saat kita kecil, seseorang salah memperlakukan kita, seseorang mengambil keuntungan dari kita. Mungkin seseorang menipu kita atau mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita. Mungkin seorang teman dekat berkhianat terhadap kita dan kita memiliki banyak alasan untuk menjadi marah dan merasa getir dan pahit.
Tetapi demi kesehatan emosional dan spiritual kita, kita harus membiarkan semua itu berlalu. Karena semua itu tidak membawa kebaikan bagi kita untuk membenci seseorang yang telah melakukan kesalahan kepada kita. Juga tak masuk akal untuk terus menerus memendam kemarahan terhadap apa yang dilakukan orang pada kita di masa lalu. Karena kita tak mungking dapat mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi kita dapat melakukan sesuatu untuk masa depan kita. Kita dapat memaafkan dan mulai mempercayai Tuhan untuk melakukan yang terbaik bagi kita.
Seperti dikatakan dalam bacaan di atas: “jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. “ Perhatikan bahwa kepahitan dijelaskan sebagai suatu akar. Pikirkan hal ini. Akar tidak bisa dilihat karena berada jauh di dalam tanah. Tetapi anda dapat merasakan dan melihatnya dari buah yang dihasilkannya. Akar yang pahit menghasilkan buah yang pahit juga. Karena itu kalau dalam diri kita mengalami kepahitan, maka kepahitan ini akan mempengaruhi seluruh bidang kehidupan kita.
Banyak orang mencoba mengubur, atau menyembunyikan kepahitan atau luka-luka mereka dalam-dalam di hatinya atau di alam bawah sadar mereka. Mereka menjadi tempat pelabuhan atau persinggahan perasaan tak memaafkan dan kemarahan mereka, kemudian mereka bertanya mengapa mereka tak dapat hidup dalam kemenangan, mengapa mereka tidak dapat bergaul dengan orang lain, mengapa mereka tidak dapat menjadi bahagia. Mereka tidak menyadari hal ini, hal ini karena hati mereka telah diracuni oleh kepahitan dan kemarahan mereka. Alkitab mengatakan Matius 15:19-20 “ Karena dari hati hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. 20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dgn tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” Dengan kata lain, kalau kita memiliki kepahitan dalam diri kita, itu akan berakhir dengan kontaminasi atau polusi segala sesuatu yang keluar dari kita. Itu akan mengkontaminasi pribadi kita dan sikap kita, serta bagaimana kita memperlakukan orang lain .
Banyak orang mencoba memperbaiki diri mereka atau kehidupna mereka dengan cara memperbaiki bagian luar mereka. Mereka mencoba mengurangi perilaku buruk mereka, perangai buruk mereka, atau persona atau citra mereka yang negatif. Mereka berhubungan dengan buah-buah dari kehidupan mereka, mencoba merubah sesuatu yang bersifat mendatangkan daya tarik. Tetapi kebenarannya sebenarnya tidak mereka selesaikan yaitu, berhubungan dengan akar kepahitan hidup mereka. Kalau mereka tak mampu membiarkan akar kepahitan itu berlalu, maka mereka tak akan dapat merubah buah-buah kehidupan mereka. Karena selama akar kepahitan masih bertumbuh dalam diri mereka, maka masalah merek akan tetap ada dan akan terus tertampil keluar dari waktu ke waktu. Kita mungkin dapat mengontrol perilaku kita untuk sesaat atau menjaga sikap yang baik untuk periode yang singkat, tetapi pernahkah kita bertanya mengapa kita tak pernah merasa bebas? Mengapa kita tak mampu mengalahkan perilkau atau kebiasaan-kebiasaan yang jelek.
Kita harus mencari lebih dalam. Kita harus menemukan mengapa kita begitu marah, mengapa kita selalu begitu negatif. Kalau kita mencari lebih dalam dan mecapai akar permasalahan , maka kita akan mampu berurusan dengan persoalan utama, mengalahkannya dan mulai merubahnya.
Seringkali kita tidak perlu kembali dan melepaskan semua pengalaman negatif, mengulang semua pengalaman masa lalu yang getir dan pahit. Tak perlu harus semua itu kita lakukan. Tetapi yang penting adalah kita meneliti, memeriksa hati kita untuk memastikan bahwa kita tidak menyembunyikan kemarahan dan ketidakmampuan mengampuni di dalam diri kita. Kalau kita memiliki daerah dalam hidup kita dimana ada pergumulan terus menerus, pertentangan terus menerus, mencoba merubah tetapi menemukan diri anda tak mampu melakukannya, maka kita membutuhkan Tuhan dalam hal ini untuk menunjukkan pada kita apa yang menghalangi kita dari kebebasan. Bertanyalah kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada anda kalau anada memiliki sesuatu akar kepahitan yang butuh untuk digali dan dikeluarkan dari hidup anda. Kalau Tuhan memberikan sesuatu pencerahan, cepat-cepat menanganinya. Mau berubah. Jangan biarkan racun masa lalu terus menerus mengkontaminasi meracuni kehidupan anda.
Bertahun-tahu yang lalu terjadi penyebaran penyakit dalam suatu dusun kecil di suatu daerah terpencil Afrika. Baik anak-anak dan orang dewasa jatuh sakit dan muntah-muntah. Beberap mingu berlalu, dan penyakit ini menyebar makin luas, dan orang mulai meninggal. Kabar penyakit ini mencapai kota utama, dan para ahli dikirim untuk mencari tahu apa penyebab masalahnya. Mereka kemudian menemukan bahwa sumber ari terkontaminasi. Massyarakat pendesaan itu mendapatkan sumber air mereka dari mata air di gunung, maka para ahli itu memutuskan mengikuti sumber air tersebut untuk menemukan sumber polusinya. Mereka berjalan berhari-hari dan akhirnya tiba di mulut aliran air. Tetapi di atas permukaan mereka tidak menemukan hal-hal yang salah. Bingung dengan hal ini, mereka memutuskan menyelam untuk mencari lebih dekat pada mata air tersebut.
Apa yang ditemukan para penyelam mengejutkan para ahli. Seekor babi betina dan bayinya tergeletak tepat dimulut mata air. Mungki mereka terjatuh dan tenggelam dan terjebak disitu. Bangkai mereka mencemarkan air itu dan menebarkan penyakit ke seluru desa. Ketika para penyelam mengeluarkan bangkai babi ini, air yang mengalir menjadi bersih dan terbebas dari pencemaran.
Dalam kehidupan kita sesuatu negatif yang sama mungkin terjadi. Kita semua mengalami sesuatu yang negatif. Mungkin kemarin, mingu lalu atau bertahun-tahun lalu. Seringkali, bukannya membiarkan hal-hal negatif itu berlalu dan memberikannya kepada Tuhan, kita menyimpannya dalam kehidupan kita. Kita tidak memaafkan, dan sama seperti babi-babi itu, kepahitan itu mencemari kehidupan kita.
Dimulai dengan sesuatu yang buruk terjadi. Beberapa saat kemudian kita mulai menerimanya. Kita kemudian mulai menyediakan tempat dalam hati kita bagi kepahitan itu; sesudah itu kita mulai belajar hidup berdampingan dengan kepahitan kita. Akhirnya dia menjadi bagian dari hidup kita sehingga kita mengakui sebagai pribadi kita. Kita mengakui bahwa kita adalah seorang pemarah, seorang pendendam. Itu adalah pribadi kita. Kita selalu seperti itu. Kita selalu pahit dan getir. Itulah kita.
Semua itu tidak benar, kita sebenarnya bukan seperti itu. Kita butuh kemampuan untuk mengeluarkan racun itu dalam diri kita yang mencemari hidup kita dan pribadi kita. Kita sebenarnya adalah seperti kristal yang jernih, seperti air yang jernih, bukan air yang kotor dan buram. Karena Tuhan menciptakan kita menurut citra diriNya. Tuhan menginginkan kita gembira, sehat seutuhnya. Tuhan ingin kita menikmati kehidupan kita sepenuhnya, bukannya hidup dalam kepahitan, kemarahan dan dendam, dicemari dan diracuni sehingga juga mencemari orang lain dimana kita memiliki pengaruh.
Bayangkan diri anda sebagai kristal yang jernih meskipun saat ini anda masih berada dalam lumpur kepahitan dan dendam. Kalau anda mulai memaafkan orang yang melakukan kejahatan kepada anda, dan melepaskan semua kepahita, luka-luka dan kegetiran, maka semua itu akan terlepas dan meninggalkan anda dan anda akan mulai melihat diri anda seperti air yang jernih, kristal yang jernih kembali. Anda akan mengalami kebahagiaan, kedamaian, dan kebebasan yang Tuhan inginkan terjadi pada anda dan hidup anda.
Mungkin ini sama seperti yang diminta oleh Daud ketika ia mengatakan dalam Mazmur 139;23: “selidikilah aku ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikira-pikiranku;” Kita erlu menyelidiki hati kita dan meyankinkan kita bahwa kita tidak memiliki sesuatu akar kepahitan yang tertanam jauh di dalam lubuk hati kita.
Seringkali sesuatu kepahitan awalnya bukanlah sesuatu hal yang besar yang mencemari hidup kita. Mungkin suami atau isteri kita tidak pernah meluangkan waktu bersama kita seperti yang kita harapkan, dan kemudian kita mulai merasakan kemarahan dan dendam. Kita mulai berlaku kaku terhadap pasangan kita, tidak menghargai lagi padanya, mulai mendiamkan pasangan kita, menyembunyikan sesuatu dari dia, tidak lagi bersikap ramah padanya. Kita secara sadar menjadi makin kaku dan terbiasa dengan hal itu.
Hati-hati dengan hal itu. Akar kepahitan ini akan mencemari hidup kita. Karena itu tetapm menjaga agar aliran sungai kehidupan kita tetap bersih dan murni. Jangan biarkan hati kita tercemar. Alkita berbicara tentan dalam Matius 6: 14-15 “ karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga, 15 tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Alkitab berbicara untuk cepat mengampuni, makin lama kita menahan, makin keras itu akan terjadi. Makin lama kita menahan kemarahan dan dendam itu, makin dalam akar kepahitan itu berkembang.
Kadang-kadang, dari pada memaafkan dengan segera, membiarkan kepahitan dan kegetiran itu pergi, kita secara diam-diam mengubur itu dalam-dalam jauh di dalam hati kita dan pikiran kita. Kita tak ingin membicarakannya. Kita tak ingin memikirkannya. Kita inign mengabaikannya dan berharap itu akan berlalu begitu saja.
Itu tidak akan terjadi. Sama seperti babi yang terjebak dalam mata air dan mencemari aliran air, suatu ketika itu pencemarannya akan timbul dalam hidup kita, dan hidup kita akan menjadi berantakan. Bila itu terjadi maka hal itu akan membuat kita jauh lebih sakit dan sedih, dan kalau kita menolak berhubungan dengan itu, kepahitan itu bahkan dapat membunuh kita.
Beberapa puluh tahun yang lalu beberapa perusahaan Amerika diminta oleh pemerintah Amerika untuk mengubur produk buangan yang beracun di bawah tanah. Mereka mengisi produk ini ke dalam kontainer besi, dan menutupnya drum itu rapat-rapat, dan menguburkannya dalam-dalam jauh di bawah tanah. Mereka mengira masalah sudah berakhir. Namun tidak berapa lama kontainer ini mulai bocor produk beracun ini mengalir naik kepermukaan tanah, dan menyebabkan masalah, Di beberapa lokasi produk beracun ini membunuh sayuran dan mencemari suplai air. Di dekat daerah air terjun Niagara, banyak orang mulai menderita sakit dan mati karena kanker atau penyakit-penyakit lain. Sampai saat ini banyak masyarakat masih menderita akibat penguburan produk beracun tsb.
Apa yang salah? Karena mereka mencoba mengubur sesuatu yang terlalu beracun. Racun ini tidak dapat diisolasi. Mereka pikir mereka dapat menguburnya dan persoalan selesai. Mereka tidak menyadari bahwa bahan yang mereka kubur terlalu kuat dan berbahaya untuk dimasukkan begitu saja dalam kontainer.
Hal yang sama terjadi juga dengan kita. Bila seseorang menyakiti kita, seseorang berbiuat salah pada kita, dari pada membiarkan itu pergi dan menyerahkan kepada Tuhan untuk memperbaiki hidup kita, kita mencoba menguburkan kepahitan itu dalam-dalam di dalam hati kita. Kita mencoba menumpuk ketidak mampuan mengampouni/ memaafkan, kemarahan, dendam dan berbagai hal-hal merusak dalam “kontainer diri kita yang mudah bocor”. Tetapi sayang sekali, sama seperti bahan beracun yang dapat bocor dan naik ke permukaan, suatu ketika hal-hal yang kita tumpuk dalam-dalam itu akan naik ke permukaan dan mulai mencemari hidup kita. Kita tak dapat hidup bersama racun dalam diri kita dan mengharapkan hal itu tidak merusak diri kita.
Hadapilah itu. Kita tidak terlalu kuat untuk menghapus racun dalam hidup kita. Kita membutuhkan pertolongan dari seseorang yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari kita. Itulah sebabnya kita perlu memberikan kepahitan, dendam kemarahan, dan berbagai bahan pencemar kepada Tuhan. Pengampunan adalah kunci untuk pembebasan dari racun kepahitan. Mengampuni orang yang menyakiti kita. Mengapa atasan yang berbuat salah pada kita, mengampuni teman yang berkhianat atau berdusta pada kita, mengampuni orang tua yang mungkin salah mendidik dan memperlakukan kita dengan baik. Jangan membiarkan akar kepahitan berkembang menjadi besar dan lebih mendalam dan terus mencemari hidup kita.
Bagaimana kita mengenal berbagai racun dalam hidup kita. Pada beberapa orang itu kelihatan seperti kemarahan. Pada orang lain terlihat seperti depresi, tertekan. Pada yang lain lagi seperti merasa kurang daya tarik pribadi. Racun ini dapat menampilkan diri dalam berbagai cara yg berbeda dan kadang merusak sebelum kita sempat menyadarinya.Sebagai contoh, seoerang petinju mungkin bertinju karena rasa marah akibat pengalaman masa kecil diperlakukan secara sadis atau diolok-olok orang lain. Seorang mungkin mencoba menghindari jalan ke tempat kerja karena di jalan itu tinggal seseorang yang tidak disukainya yang mungkin sedang berdiri di tepi jalan ketika ia melewati jalan itu.
Kunci untuk melepaskan diri dari racun kepahitan karena diperlakukan salah atau disakiti oleh orang lain adalah dengan memaafkan. Melalui pengampunan kita justru dibebaskan dari kepahitan kita dan dari kemungkinan racun yang mengendap di dalam diri kita. Bila kita ingin melanjutkan hidup kita, kita harus membiarkan semua kepahitan itu pergi dari kita, mengampuni dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan berbuat yang terbaik bagi kita.
Dengan memaafkan kita mendapatkan kegembiraan kita kembali. Dengan pengampunan kita mendapatkan kembali kedamaian diri kita. Jadi ketika kita mengampuni seseorang, kita bukan saja berbuat baik baik orang itu, tetapi jauh lebih besar adalah berbuat baik untuk diri kita sendiri.
Kalau kita tak mau mengampuni seseorang, maka hal ini akan menjauhkan kita dari berkat Tuhan. Doa-doa kita akan tidak dijawab oleh Tuhan. Karena kalau kita berdoa tetapi jauh di dalam hati kita, kita belum mengampuni seseorang, maka sebaiknya kita berdamai dulu dengan orang itu baru datang menghadap Tuhan. Kepahitan akibat ketidak mampuan kita kita mengampuni akan membuat berkat Tuhan menjauh dari kita, dan doa-doa kita tak didengar Tuhan.
Pengampunan adalah suatu pilihan, tetapi itu bukan suatu option. Karena seperti dikatakan oleh Yesus, “Bila kita tidak mengampuni orang lain, maka Bapamu di surga juga tidak akan mengampunimu.” Jadi kalau kita ingin mendapatkan kebahagiaan, kegembiraan, kedamaian, jangan menahan pengampunan kita pada orang lain. Biarkan pengampunan kita terjadi. Jangan biarkan kepahitan mengakar dalam diri kita. Bila Tuhan menunjukkan hal-hal itu kepada kita, cepat-cepatlah melakukannya. Jagalah hati kita sejernih dan sebening kaca. Buanglah racun kepahitan jauh-jauh dalam diri kita. Niarlah Tuhan mendatangkan keadilan dalam hidupmu dengan melimpahkan berkat-berkat yang jauh lebih besar dari apa yang sudah dicuri dalam hidupmu. Tuhan mengembalikan apa yang hilang dalam hidup anda akibat perbuatan orang lain.
Sama seperti Yusuf mengampuni saudara-saudaranya yang telah menjual ia ke Mesir sebagai budak, maka Allah mengembalikan semua yang hilang dari padanya akibat perbuatan saudara-saudarnya berlipat-lipat ganda bahkan menjadi orang nomor dua tertinggi di Mesir sesudah Firaun. Resapilah apa kata Yusuf kepada saudara-saudaranya: kalian merancang malapetaka kepadaku, tetapi Allah mengubah malapetaka itu menjadi keselamatan bukan saja untukku tetapi juga untuk memelihara kehidupan dan menjamin kelanjutan keturunanmu di muka bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.
http://www.flobamor.com/forum/bina-rohani/6428-jangan-membiarkan-kepahitan-mengakar-dalam-diri-anda.html#post58678
Wednesday, September 15, 2010
Anak Domba Atau Serigala?
Yang Pertama dari serangkaian khotbat-khotbah penafsiran 2 Korintus 12:9
"Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna"
Disampaikan oleh Pastor Eric Chang pada Januari 3, 1993
Di Gereja Christian Disciples Pulau Pinang (Malaysia), Kebaktian Permulaan
Apakah Kita Melihat Keadaan Yang Menyedihkan Di Sekeliling Kita?
Di sekitar tempat tinggal kami yang baru di Hong Kong, ada orang yang sedang membangun jalan yang baru yang mana di kedua sisi jalan itu ditanami pohon-pohon guna untuk menarik lebih banyak orang supaya pindah ke daerah itu. Sayangnya, usaha itu hanya sebagian saja yang berhasil. Saya suka berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Saya perhatikan bahwa pohon-pohon yang masih muda ini sangat kurus dan hanya mempunyai beberapa dahan yang jarang; pohon-pohon itu berusaha keras untuk tumbuh di dalam satu lingkungan yang tidak bersahabat.
Mengapa saya mengatakan satu lingkungan yang tidak bersahabat? Karena sangat sulit bagi pohon-pohon tersebut untuk tumbuh subur dalam keadaan yang demikian. Pemerintah setempat telah memasang pipa air di sepanjang sisi jalan. Pipa tersebut diberi lubang kecil di setiap tempat yang ditanami pohon dengan tujuan sebagai persediaan air bagi pohon-pohon tersebut selama musim panas di Hong Kong. Lubang-lubang di atas pipa air tersebut mungkin tersumbat sehingga pengairan tidak berjalan lancar. Bila saya melihat pohon-pohon yang kecil itu, saya merasa sangat sedih karena saya melihat bahwa kebanyakan dari pohon-pohon kecil itu layu. Daun-daunnya kering dan warnanya sudah berubah menjadi coklat tua. Usaha mereka untuk melangsungkan kehidupannya kelihatannya telah gagal.
Yang paling menyedihkan, pohon-pohon tersebut tidak mendapatkan air sekalipun terdapat satu aliran air yang besar melewati ujung-ujung akar mereka. Mereka sedang layu, sedangkan air segar mengalir dengan deras di atas mereka. Kehidupan sesungguhnya begitu dekat, akan tetapi pada kenyataannya begitu jauh. Bayangkan jika hal ini terjadi pada kita, kalau kita adalah salah satu dari pohon ini: melihat air mengalir dengan limpahnya di atas kita dan sementara itu kita sekarat dalam kehausan, terbakar di bawah terik matahari dan merindukan beberapa tetesan air; Dan air itu hanya mengalir melewati kita begitu saja. Di suatu tempat lebih jauh di bawah di sepanjang pipa tersebut, beberapa pohon mendapat air dan mereka tampak tumbuh dengan subur sekali dengan daun-daunnya yang berwarna hijau. Namun, kebanyakan dari pohon-pohon yang ada sedang sekarat tepat di bawah pipa air itu juga. Saya berpikir: "Di mana pengurus taman ini? Apa yang sedang dikerjakannya? Apakah ia sedang menunggu sampai mereka semua mati?"
Jadi, setiap kali saya berjalan di sepanjang jalan tersebut, saya berpikir bahwa terdapat banyak hal yang dapat dipelajari dari situasi ini. Sebagai umat Allah, di dalam diri kita terdapat aliran-aliran air hidup ini. Seperti yang dikatakan Paulus di dalam 2Korintus 4:7, kita mempunyai harta ini (air hidup ini) di dalam bejana tanah liat (2 Korintus 4:7)
Saya tidak tahu berapa banyak orang yang berada di sekeliling kita akan menengadah sambil berkata, "Berikan kami sedikit air, kami sedang binasa! Jika tidak cepat, mungkin akan terlambat!" Apakah kita begitu disibukkan dengan hal-hal yang lain sehingga kita mengabaikan mereka yang berada di sekeliling kita dan membiarkan mereka untuk binasa? Seringkali kita terlalu sibuk menyalurkan air itu ke tempat lain yang lebih jauh dan lupa untuk membagikan pada mereka yang ada di dekat kita. Barangkali kita mengucap selamat pada diri sendiri dan mengatakan: "Ya, di sebelah sana, terdapat beberapa pohon yang bertumbuh subur karena perhatian kita. Pipa kita masih berfungsi."
Tetapi bagaimana dengan kebanyakan orang yang sedang mati kehausan dan sedang binasa di sepanjang jalan?
Di Manakah Air Hidup Itu?
Di manakah gereja? Di manakah gereja yang berfungsi? Di sana sini terdapat satu dua pohon kecil yang bertumbuh, dan kita merasa bangga dengan diri kita sendiri dan berkata bahwa karena kita, pohon-pohon kecil ini bertumbuh. Dan lihat di sebelah sana, ada satu lagi!
Tetapi bagaimana dengan sejumlah besar orang yang sedang binasa? Kita tidak mempunyai waktu untuk memikirkan mereka. Kita hanyalah satu pipa air. Bagaimanapun, berapa banyak pohon yang dapat kita perhatikan? Di dalam pipa air dekat rumah saya tersebut, terdapat cukup air untuk semua pohon, andai saja terdapat kerelaan untuk membuka diri sedikit. Andai saja tukang kebun mau memastikan bahwa lubang-lubang di pipa tersebut tidak tersumbat maka semua pohon tadi dapat diairi.
Saya bertanya-tanya apakah kita seperti pipa air yang tersumbat tersebut?
Hari ini di Pulau Pinang, kita memiliki satu aliran air yang baru. Saya berharap, oleh anugerah Allah, orang-orang yang haus dan bersungguh-sungguh merindukan air dapat menemukannya di sini.
Saya Menemukan Banyak Orang Yang Kehausan Di Mana-Mana
Beberapa bulan yang lalu, dalam penerbangan kembali ke Montreal dari Timur Tengah, saya duduk di samping seorang pria. Sementara kami berbicara, saya mendapati bahwa pria tersebut telah mencari kebenaran sejak masa mudanya. Ia berusaha mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul tentang kehidupan, namun sia-sia. Ia tidak pernah menemukan apa-apa, dan tidak ada orang yang dapat memberitahukan apa artinya kehidupan itu. Dia duduk di samping putranya, pemuda yang tampan dan merupakan seorang ahli ilmu purbakala. Saya berbicara dengan pria ini dan bertanya tentang kehidupannya. Ia bercerita kepada saya, "Sebenarnya dulu aku adalah seorang mahasiswa kedokteran dan hatiku rindu untuk mengetahui apa artinya kehidupan ini. Aku berusaha mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku yang begitu banyak." Akhirnya, iapun meninggalkan studi kedokterannya untuk beberapa waktu untuk mempelajari ilmu filsafat, dengan harapan dapat menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya. Namun, bukan jawaban yang ia temukan tetapi sebaliknya timbul lebih banyak pertanyaan lagi yang tidak ada jawabannya. Dia sekarang menjadi seorang Profesor Filsafat di McGill University dan ia juga membuka praktek sebagai dokter penyakit jiwa, karena sebelumnya, ia mengambil studi kedokteran umum tetapi kemudian beralih profesi ke ilmu penyakit jiwa. Sementara itu, dia juga mengajar filsafat di Universitas.
Dua puluh tahun kemudian, saya duduk di sampingnya dan bertanya, "Bagaimana pandangan kamu terhadap kehidupan sekarang, apakah hingga saat ini kamu masih belum menemukan jawabannya juga?" Dan ia berkata, "Aku sudah menyerah dan menerima kenyataan bahwa kehidupan ini tidak ada jawabannya, tidak ada jawaban yang dapat ditemukan. Yang ada hanya pertanyaan, dan kita cuma perlu menerima keadaan itu."
Lalu saya bertanya lagi, "Apa yang kamu ajarkan selama ini, mengingat kamu hanya mempunyai pertanyaan dan tidak ada jawabannya?" Dan ia menjawab, "Baik, aku mengajar mereka untuk melihat pertanyaan-pertanyaan itu." Saya bertanya lagi, "Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang datang untuk mencari jawaban?" Ia menjawab, "Seperti aku, mereka harus mengerti bahwa tidak ada jawabannya." Saya berkata kepadanya, "Apakah pernah terlintas di pikiranmu bahwa mungkin ada jawabannya?" Katanya, "Oh iya, tetapi di mana?" Saya berkata, "Apakah kamu tidak keberatan kalau saya menceritakan sedikit tentang kehidupan saya?" Ia berkata, "Oh, silakan saja, ceritakan."
Jadi saya menceritakan kepadanya dan ia sangat tertarik. Ia berkata, "Sungguh? Kamu benar-benar bertemu dengan Allah? Apakah mungkin untuk seseorang mengenal Allah?" Suatu wawasan yang baru mulai terbuka bagi dia. Bangkit di dalam dirinya satu semangat yang baru. Dan ia berkata, "Mungkin masih ada jawabannya." Setibanya kami di Montreal, saya mengatakan bahwa saya akan menghubunginya lagi, sambil memberi padanya beberapa kopian dari kesaksian saya, dan beberapa buku lagi yang menceritakankan tentang pekerjaan-pekerjaan Allah yang ajaib dan nyata. Karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Timur jauh, kami sepakat untuk bertemu lagi bila saya kembali lagi akhir tahun ini. Bila Tuhan mengizinkan, kami akan bertemu lagi.
Kisah ini menggambarkan seseorang yang rela meninggalkan kedokterannya untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, tetapi dia tetap tidak menemukan jawabannya. Orang tersebut diumpamakan sebagai sebatang pohon, satu pohon yang muda, seorang mahasiswa kedokteran yang muda yang sedang mencari air kehidupan. Pada saat yang bersamaan, kehidupan rohaninya sudah layu karena kehausan. Ia menjadi seorang yang sinis: karena terdapat terlalu banyak pertanyaan, tetapi tidak menemukan jawaban. Dan ia menerima kenyataan itu dengan berani.
Dalam perjalanan dari Montreal ke Hong Kong, sekali lagi saya berada di atas pesawat. Kali ini saya duduk berdampingan dengan seorang pria Thai dari Bangkok. Kami bercakap-cakap dan ia menceritakan kepada saya tentang kehidupannya. Ia baru saja kembali dari satu tour keliling Eropa. Ia telah mengambil pensiun lebih awal dan ia berkata kepada saya: "Tidak ada gunanya bekerja sampai mati, bukan? Apa tujuannya kehidupan ini? Apakah ada artinya kehidupan ini? Saya sudah mencapai puncak karir, sebagai seorang eksekutif perusahaan Shell di Thailand, dan saya memutuskan untuk mengambil pensiun lebih awal. Saya telah memiliki semua uang yang saya butuhkan dan jika saya melanjutkan bekerja seperti itu maka pernikahan saya akan berantakan karena saya jarang sekali berada di rumah, terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan kesehatan sayapun akan terganggu. Jadi bagi saya sekarang, semua keinginan saya sudah tercapai, dan itu sudah cukup. Sekarang saya ingin menikmati apa yang tersisa dari hidup ini." Bagi dia, menikmati hidup berarti melakukan perjalanan keliling Eropa, meskipun kewalahan untuk mengunjungi 7 negara dalam 10 hari. Itulah cara orang ini menikmati hidup. Saya dapat memikirkan cara yang lebih baik untuk menikmati hidup. Bagi saya, mengadakan perjalanan sangat melelahkan. Bahkan hanya berpikir untuk melakukan perjalanan keliling 7 negara dalam 10 hari saja sudah cukup melelahkan saya. Bagaimanapun, mungkin hal itu merupakan sesuatu yang baru baginya.
Saat kami bercakap-cakap, ia memberikan kartu namanya kepada saya. Saat mengeluarkan kartu namanya, tampak pula kartu emas American Expressnya. Kami berbicara tentang tujuan hidup. Bagi dia, kehidupan ini tidak ada tujuan. Saya berpikir sendiri bahwa orang ini telah mencapai usia pensiun, dan telah memanjat tangga kehidupan sampai ke atas, namun masih belum mengerti apa artinya kehidupan. Orang ini merupakan salah satu dari pohon yang ditanam di tepi jalan itu. Andai saja pada masa mudanya, seseorang telah membawakan sedikit air padanya. Maka sekarang, dengan mengadakan sedikit perjalanan saja sudah cukup untuk memuaskannya. Saya bertanya, "Apakah kamu tidak bosan; bagaimana kamu menghabiskan waktumu?" Dia berkata, "Saya bermain golf."
Coba bayangkan; jika tidak ada lagi yang tersisa di dalam kehidupan ini selain golf, sebenarnya kehidupan ini tidak berarti lagi. Kehidupan macam apa itu? Menyedihkan sekali! Tragis sekali! Tidak berarti! Tetapi apa yang dapat kita katakan? Kehidupan rohaninya sudah layu dan mati. Tidak ada lagi yang tertinggal. Sekarang ia menghabiskan sisa hidupnya dengan memukul bola golf seminggu dua kali. Dan saya tidak melanjutkan untuk bertanya kegiatan apa lagi yang ia lakukan dengan hari-harinya yang lain. Mungkin ia hanya berbaring di serambi dan tidur. Sungguh mengerikan!
Kita harus membawa air kehidupan kepada orang-orang seperti ini. Apa yang terjadi kepada jiwa, roh, potensi-potensi kekal yang ada dalam orang-orang ini? Menjadi layu tanpa air? Alangkah besar sukacitanya karena air hidup ini dapat dibawa ke Pulau Pinang!
Di dalam waktu yang sisa ini, saya ingin membahas sedikit lagi mengenai air kehidupan ini. Bagaimana kita dapat memenuhi misi ini? Dengan jalan apakah supaya misi itu dapat digenapi? Apakah karakter gereja; Dan mengapa kita sebagai gereja dan sebagai orang-orang Kristen, sering gagal?
Mungkin kita sendiri masih belum memahami dengan baik tentang pesan dari Injil yang sebenarnya. Kita tidak mengetahui apakah Injil itu. Bila saya berbicara tentang air kehidupan, tentu saja, saya berbicara tentang Injil Kristus. Tetapi apakah Injil itu? Mungkin anda sudah lama menjadi orang Kristen, tetapi apakah anda yakin anda tahu apakah Injil itu? Tahukah anda bagaimana untuk menyampaikan Injil kepada orang yang haus jika anda tidak tahu apakah Injil itu! Tidak heran bila anda belum dapat memberikan air kehidupan itu kepada siapapun. Apakah karakter Injil yang paling penting? Dan bagaimana Injil seharusnya disampaikan?
Saya akan membahas dari Lukas 10:3. Kepada tujuh puluh murid yang akan diutus-Nya, Yesus berkata: "Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala."
Ayat ini begitu kaya dalam arti. Lebih banyak saya merenungkan ayat ini, semakin ragu-ragu saya untuk mengkhotbahkannya. Kekayaan yang terdapat di dalam ayat ini dapat dikatakan berkelimpahan. Mengapa ayat ini begitu penting? Karena pada ayat ini terletak inti Injil, apa yang ia lakukan dan bagaimana ia harus memberitakannya. Lebih dari itu, ayat ini juga mudah diingat karena ayat ini membandingkan dua gambaran yang bertentangan: serigala dan anak domba, atau lebih tepat lagi, sekelompok serigala dan sekelompok anak domba.
Tuhan Yesus berkata: "Pergilah sekarang, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala." Lebih banyak anda merenungkan gambaran ini, lebih mengherankan. Anda tidak perlu menggunakan imajinasi (daya khayal) yang baik untuk melihat apa yang akan terjadi kepada anak-anak domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Dapatkah anda bayangkan berapa lama anak-anak domba itu dapat bertahan hidup? Apakah mereka dapat bertahan selama 5 menit? Atau 10 menit? Anak-anak domba yang malang dan tidak berdaya tersebut akan segera dicabik-cabik. Bahkan Tuhan Yesus tidak menyebut "domba", setidak-tidaknya, domba lebih besar, hampir sebesar serigala. Tetapi anak domba! Anak domba melawan serigala? Ini benar-benar anak-anak domba yang diutus untuk dibantai.
Di sini Yesus berkata, "Aku akan mengutus kamu keluar, dan kamu akan berhadapan dengan lawan yang tidak sebanding." Apakah tujuan dari semua ini? Apakah terdapat semacam strategi di sini? Apakah ini sekedar satu lelucon? Jika ini sekedar satu lelucon, ini adalah satu lelucon yang kejam terhadap anak-anak domba itu. Jadi apakah yang ingin disampaikan Yesus kepada kita?
Bila anda membaca Alkitab, saya bertanya-tanya apakah dampak dari gambaran yang dipakai membangkitkan imajinasi (daya khayal) anda. Marilah kita bersama-sama meneliti ayat ini dan menguraikannya ke dalam beberapa poin yang singkat.
Apakah Karakter (Sifat) Serigala?
Pertama-tamanya, kita harus memahami karakter (sifat) serigala. Tahukah anda tentang serigala? Bangsa Palestina tahu banyak tentang serigala karena mereka adalah pengembara. Domba adalah nafkah penghidupan mereka. Mereka harus melindungi domba-domba mereka, dan ancaman yang paling besar yang harus dihadapi tentu saja adalah serigala.
Baru-baru ini, saya membaca satu artikel yang menarik di dalam majalah National Geographic terbitan tahun 1989 mengenai serigala, terutamanya serigala Arktik. Serigala Arktik sama saja seperti serigala di tempat-tempat lain, hanya mereka tinggal di benua Arktik. Beberapa penyelidik berhasil mendekati serigala-serigala tersebut, dan membiarkan serigala-serigala tersebut membiasakan diri dengan mereka, supaya mereka dapat memperhatikan tingkah laku serigala-serigala itu dari dekat.
Dari penelitian itu, mereka menyimpulkan karakter (sifat) serigala dalam tiga kata: agresif, menuntut dan sangat egois. Itulah sifat dasar serigala. Artikel ini tidak ditulis oleh seorang Kristen demi kepentingan khotbah saya. Mereka menulis artikel ini sebagai hasil dari penelitian mereka tentang serigala-serigala tersebut dari jarak yang dekat.
Masyarakat serigala terdiri dari satu masyarakat yang berdisiplin, yang berdasarkan kepimpinan dan penguasaan dari satu serigala jantan. Sistem kehidupan adalah satu sistem di mana satu memerintah yang lain. Yang kuat (tentu saja, serigala yang lebih besar, yang lebih berkuasa, yang memiliki gigi lebih tajam, yang lebih licik, yang lebih kejam) menguasai seluruh kelompok dan memimpin kelompok itu ke mana saja ia ingin pergi. Masyarakat serigala berjalan berdasarkan pola ini. Sangat menarik.
Masyarakat manusia juga berjalan dengan cara yang sama, sekalipun kadang-kadang dengan cara yang lebih halus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata di Matius 20:25,
Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Masyarakat manusia berjalan berdasarkan prinsip yang sama seperti masyarakat serigala. Siapa pada akhirnya yang lebih berkuasa? Pada kebiasaannya orang yang bersaing, orang yang berinisiatif, orang yang cerdik dan dapat mempengaruhi orang lain, orang yang pandai memikat hati dan memenangkan suara. Orang seperti inilah yang menjadi pemenang, apakah ia melakukannya dengan senyuman, atau dengan kekerasan. Pada akhirnya orang jahatlah yang menang. Ia ingin memberikan satu kesan bahwa ia adalah seorang yang baik, seorang penyelamat dunia, penyelamat bangsa, dan lebih lagi, penyelamat anda. Selama anda mengikutinya, anda tidak akan lapar. Ia akan melindungi anda dan ia akan melakukan yang terbaik untuk anda - ia adalah seorang manipulator yang hebat. Orang seperti inilah yang akan menjadi pemimpin.
Saat Tuhan berbicara mengenai serigala dan kelompoknya, Ia sebenarnya berbicara tentang masyarakat dunia sebagaimana adanya. Setiap kita yang hidup di dalam masyarakat ini tahu siapa yang berpengaruh. Di perusahaan umpamanya, hanya ada satu orang saja yang dapat mencapai puncak atau hanya ada satu orang saja yang dapat menambatkan ekornya untuk mencoba mencapai puncak. Jadi kalau anda tidak dapat menjadi nomor satu, anda dapat menjadi nomor dua dengan menjilat orang yang memegang posisi nomor satu untuk dapat mencapai puncak. Kehidupan manusia berjalan dengan cara seperti ini. Itulah caranya seseorang mendapatkan kekuasaan.
Jadi apabila Tuhan mengatakan, "Aku mengutus kamu ke tengah-tengah serigala", Yesus sebetulnya berkata, "Inilah masyarakat dunia dan lihatlah bagaimana bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah berfungsi? Mereka menguasai satu sama lain." Mereka semua ingin menjadi bos besar. Para bandit tidak begitu halus dan lebih terang-terangan: "Mari sini. Pergi sana. Aku tembak kamu jika kamu tidak mengikut perintah aku." Banyak politikus melakukan hal yang sama tetapi dengan cara yang lebih sopan. Di dalam perebutan kuasa di perusahaan, hal yang sama terjadi, bukan? Di mana-mana sama saja, sama seperti masyarakat serigala.
Jadi apabila Tuhan berkata, "Aku mengutus kamu keluar", Ia sebetulnya berkata, "Aku mengutus kamu keluar ke dalam dunia serigala".
Bagaimana perasaan anda masuk ke dalam kelompok seperti ini? Bagaimana perasaan murid-murid-Nya saat mendengar, "Aku akan mengutus kamu pergi dan kamu akan dibantai oleh serigala." Atau, benarkah mereka akan dibantai? Kita akan datang pada itu sebentar lagi.
Menjadi Seorang Kristen Yang Sejati Berarti DITRANSFORMASIKAN Dari Seekor Serigala Menjadi Anak Domba
Tetapi mungkin anda berkata, "Tunggu dulu, sebelum kita pergi sejauh itu, bukankah kita semuanya serigala sebelum kita menjadi orang Kristen?" Memang benar. Sebelum saya menjadi seorang Kristen, saya ialah seekor serigala. Kalau bukan karena anugerah Allah, saya ialah seekor serigala, dan mampu melenyapkan semua lawan dan merebut tempat tertinggi sama seperti semua yang lain. Biar setiap orang menantang, saya tidak akan takut. Sebelum saya menjadi orang Kristen, cita-cita saya adalah bergerak dalam bidang militer. Untuk mencapai puncak di dalam bidang militer, anda dituntut untuk bersikap kejam. Saya siap melakukan apa saja yang diperlukan untuk mencapai puncak dengan alasan demi menyelamatkan negara, belum lagi menjadikan diri saya sebagai kepala negara.
Kesombongan yang sangat mendalam namun tersembunyi. Seringkali kita menyembunyikan motif kita. Dahulu saya memang adalah seekor serigala.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku mengutus kamu keluar sebagai anak domba." Di manakah anak-anak domba tersebut? Jadi, pertama-tama, mereka harus menjadi anak-anak domba dulu sebelum mereka diutus keluar. Dalam pernyataan yang menakjubkan ini, Tuhan sedang mengatakan: untuk menjadi seorang Kristen yang sejati berarti harus ditransformasikan terlebih dahulu dari seekor serigala menjadi anak domba. Prinsip transformasi disimpulkan di dalam ayat ini. Allah harus melakukan sesuatu pada saya. Ia harus menangkap serigala ini dengan gigi-giginya yang tajam, dengan semua kelicikannya dan kekejamannya, dan mengubah karakternya (sifatnya) secara menyeluruh menjadi seekor anak domba.
Seringkali kita berkata, "Tunggu sebentar, saya suka menjadi serigala. Saya suka gigi yang tajam. Tanpa gigi yang tajam, siapa yang akan melindungi saya? Tidak ada yang akan membela saya. Anda baru saja menyatakan bahwa masyarakat dunia ini adalah masyarakat serigala. Saya merasa nyaman hidup di tengah-tengah masyarakat ini. Saya telah mendapatkan tempat saya di dalam masyarakat ini. Sekarang anda ingin mengubah saya menjadi seekor domba, dan akhirnya, menjadi steak domba? Semua serigala ini akan menghabisi saya dengan segera. Saya tidak menyukai hal ini. Saya ditinggalkan tanpa pertahanan. Saya tidak mau diubahkan."
Dan tahukah anda, bahwa masih ada banyak orang Kristen yang tidak mau diubahkan karena alasan yang saya sebutkan diatas, karena anda ditinggalkan dalam keadaan mudah diserang. Masih terdapat banyak juga orang yang hanya berubah di kulit luarnya saja, menjadi serigala dengan kulit domba. Dan anda menjadi anak domba sebatas kulitnya saja, tetapi di dalam diri anda masih tetap menjadi seekor serigala. Saya berharap anda memahami kiasan ini. Itulah gambaran yang dipakai oleh Tuhan Yesus di Matius 7:15.
Seringkali kita menemukan banyak orang di dalam gereja yang kelihatan seperti anak domba. Tatkala kita menyinggung perasaan mereka, kita akan terkejut betapa tajamnya gigi "anak-anak domba" ini. Mereka akan mengigit dan anda berpikir, "Aku tidak tahu anak domba mempunyai gigi yang tajam. Aku pikir hanya serigala yang mempunyai gigi setajam itu." Pernahkah anda melihat orang-orang Kristen yang selalu bertengkar? Ketika mereka berlumuran darah dan luka-luka, anda ingin tahu di mana anak-anak domba itu? Inikah kelompok domba?
Berbicara tentang anak domba, saya dapati hal yang menarik karena salah satu lambang favorit orang-orang Kristen adalah "rajawali". Saya seringkali diberi ayat yang indah ini dari Yesaya 40:31, "mereka yang menanti-nantikan Tuhan itu seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya". Kadang-kadang kita lupa bahwa bagian yang berlaku bagi kita bukanlah paruh dan cakar rajawali (yang dapat mengoyakkan bahkan seekor serigala muda), tetapi "naik terbang dengan kekuatan sayapnya". Tidak ada cakar pada sayap. Tidak ada paruh yang tajam pada sayap.
Kita menyukai lambang kekuatan. Bila anda melihat lambang kebangsaan, apakah anda melihat anak domba di sana? Tentu tidak. Apa yang anda lihat? Seekor naga. Lambang ini sangat populer di Hong Kong, begitu juga di Negeri Cina. Yang saudara lihat adalah singa, atau kuda bertanduk (unicorn), binatang-binatang yang tangkas dan cerdas. Siapa yang mau anak domba sebagai lambang? Sulit sekali untuk menemukan orang-orang Kristen yang tertarik untuk menjadi anak domba.
Paulus menggunakan gambaran tentang "saling menggigit dan saling menelan." Ia berkata kepada Jemaat Galatia, "tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan." (Galatia 5:15) Tahukah anda apa yang ingin Paulus sampaikan kepada Jemaat Galatia? "Aku meragukan bahwa kamu semua adalah anak domba. Kamu masih serigala di dalam." Banyak orang membaca pernyataan yang cerdik dari Paulus kepada Jemaat Galatia ini, tetapi tidak memahami artinya dengan sempurna.
Apakah anda sudah diubahkan? Apakah gigi anda masih terlalu lancip? Ketika kita menjadi anak domba, kita berkata, "Semua gigi serigala saya sudah hilang." Kemudian kita mengeluarkan kikiran kuku dan menajamkan gigi sambil berkata, "Aku masih membutuhkan semacam pertahanan supaya saat serigala menyerang, aku dapat membalas dengan beberapa gigitan." Jadi benarkah kita sudah berubah?
Yesus Disebut Sebagai Anak Domba
Adalah sangat luarbiasa bahwa Tuhan Yesus sendiri disebut Anak Domba (Yohanes 1:29, Kisah 8:32, 1 Petrus 1:19). Dalam kitab Wahyu, Ia disebut "Anak Domba" sebanyak 28 kali! Lebih dari itu, Ia adalah Anak Domba yang disembelih (Wahyu 5:6). Dapatkah kamu bayangkan seekor anak domba yang terluka, seekor anak domba yang telah disembelih? Apakah ia masih mempunyai kekuatan? Seekor anak domba yang sehat saja cukup lemah, bagaimana dengan seekor anak domba yang terluka dan telah disembelih? Inilah gambaran untuk transformasi atau perubahan yang sempurna. Jika anda tidak suka menjadi seekor anak domba, jangan pernah berpikir untuk menjadi seorang Kristen. Kalau tidak, anda akan salah dalam memberitakan Injil.
Anak Domba Diutus Keluar Ke Tengah-Tengah Serigala
Ini adalah "mission impossible" - misi yang mustahil. Seperti saya katakan tadi, anak domba tidak dapat bertahan lebih dari beberapa detik di tengah-tengah serigala. Pergilah ke kebun binatang dan lemparkan beberapa anak domba dan lihat berapa lama mereka dapat bertahan. Saya tidak yakin mereka dapat bertahan lama. Serigala dengan rahang yang tajam dan kuat itu akan segera melahap mereka. Apakah anda takut anda tidak dapat bertahan?
Apakah rahasianya? Apakah strategi yang dipakai oleh Tuhan?
Beberapa hari yang lalu saya meminum kopi yang panas. Saya merasa sangat haus. Tetapi bagaimana saya harus meminumnya, terutamanya di negara yang panas seperti ini? Maka istri saya, Helen, pergi ke pelayan dan meminta sedikit es batu. Kami memasukkan es itu ke dalam kopi dan dengan segera kopi tersebut menjadi dingin. Seperti inikah strategi Tuhan?
Apakah kita melepaskan anak-anak domba di tengah-tengah serigala, supaya serigala akan kehilangan sifat agresifnya dan menjadi anak domba? Itu tidak akan berhasil. Serigala tidak akan menjadi anak domba dengan memakan habis anak-anak domba. Anda mungkin pernah mendengar ungkapan, "anda menjadi seperti apa yang anda makan." Jika itu benar, maka strategi itu mungkin akan berhasil: lebih banyak anak domba yang dimakan, semakin mereka menjadi seperti anak domba. Tapi sayangnya, kenyataan tidak berfungsi seperti itu, bukan? Maka, itu tidak mungkin strateginya.
Jadi, apa strateginya? Apa gunanya mengutus anak domba ke tengah-tengah serigala?
Sekarang kita sampai pada gagasan kunci: strateginya adalah untuk mengandalkan kuasa Allah. Yaitu, kuasa Allah bekerja melalui anak domba itu untuk mengubah serigala itu. Hal ini tidak akan berhasil dalam kehidupan alami. Jika strateginya bukan untuk mengubah serigala melalui anak domba, jadi apa tujuannya mengutus anak domba untuk dibunuh? Tentu saja anak domba manapun yang diutus ke tengah-tengah serigala harus siap untuk mati, dan memang ada yang benar-benar akan dibunuh oleh serigala. Tetapi serigala tidak diubahkan hanya dengan melakukan apa yang alamiah bagi mereka - seperti memakan anak domba. Jelaslah di sini hanya kuasa Allah yang bekerja melalui anak domba itu yang dapat mengubah serigala itu.
Injil - Harus Diberitakan Dengan Nyawa Kita
Murid-murid diutus Yesus untuk memberitakan Injil. Jadi, Injil diberitakan kepada serigala dengan nyawa anak domba sebagai korban. Sejak dulu anak domba dipersembahkan sebagai kurban persembahan di dalam Alkitab. Makanya, kita dapat melihat bahwa Injil harus diberitakan dengan nyawa kita sebagai korban. Tidak ada jalan yang murah dan mudah untuk membawa Injil kepada orang lain. Anda mungkin tidak mempercayainya mengingat cara Injil diberitakan hari ini. Anda mungkin berpikir bahwa memberitakan Injil merupakan pekerjaan yang paling mudah di dunia ini. Persatuan Uni-Sovyet baru saja membuka diri dan dari berita kita melihat bahwa banyak orang bergegas masuk, dan mereka berdiri di tengah-tengah Red Square untuk memberitakan Injil. Banyak orang berkumpul untuk mendengarkan khotbah mereka. Tampaknya, tidak ada hal yang lebih mudah dari memberitakan Injil. Tidak ada pekerjaan yang lebih mudah daripada mengubah serigala menjadi anak domba, hanya bicara dan bicara saja. Lebih fasih anda berbicara, maka lebih berhasil anda. Menurut pepatah Cina, "semuanya bergantung pada lidah sepanjang tiga inci." Anda dapat berbicara sehingga seluruh dunia tunduk kepada anda: anak domba berbicara kepada serigala sehingga serigala menjadi anak domba.
Tetapi itu bukan gambarannya. Itulah sebabnya saya mengatakan tadi bahwa mungkin kita masih belum mengerti bagaimana Injil harus diberitakan. Lebih buruk lagi, mungkin kita juga masih belum mengerti apakah karakter Injil. Tolonglah mengerti bahwa Injil menuntut supaya anda mengalami transformasi, dan anda pribadi yang tahu apakah anda sudah diubahkan atau belum. Seringkali kita tidak rela diubahkan karena kita tahu saat kita diubahkan, kita tidak dapat lagi menggunakan cara kita sendiri untuk hidup di dunia ini. Itulah yang menjadi sebab mengapa banyak orang Kristen tidak mau diubahkan. Kita akan kehilangan tempat tengah-tengah serigala. Yang pasti, tidak ada anak domba yang memiliki status di tengah-tengah serigala.
Dengan bahasa yang sederhana, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya sangat sedikit orang Kristen yang benar-benar sudah diubahkan. Pahamilah hal ini dengan jelas. Tuhan Yesus mengatakan hal itu sendiri, bahwa hanya sedikit yang akan diselamatkan (Matius 7:14; 22:14; cf 1 Petrus 3:20).
Saya sering merenungkan hal itu dan saya mengerti sekarang. Mengapa hanya sedikit yang akan diselamatkan? Karena kebanyakan tidak mau menjadi anak domba. Jika anda menjadi seekor anak domba, anda tidak dapat bertahan hidup di dunia ini (yakni, di tengah-tengah serigala) kecuali dengan satu cara tertentu, dan hal inilah yang akan kita tangani sekarang.
Bagaimana Injil Diberitakan?
Prinsip apa yang digunakan oleh Tuhan? Ini adalah satu prinsip yang menakjubkan, akan tetapi, harga yang harus dibayar juga sangat mahal. Itulah sebabnya mengapa terdapat begitu sedikit orang Kristen yang sejati. Percayalah, terdapat hanya sedikit. Jika anda dapat menemukan seorang Kristen yang sejati, pergilah kepadanya dan minumlah air yang tak ternilai itu. Jangan membiarkan air itu berlalu, karena anda sulit untuk mencari di seluruh dunia untuk satu tempat di mana Injil diberitakan sebagaimana harusnya; Anda akan mengalami kesulitan menemukannya. Bukan karena orang tidak mau memberitakannya, tetapi entah bagaimana, Injil yang sejati telah hilang. Injil terlalu sukar untuk dimengerti.
Saya akan menutup khotbah saya dengan poin ini: bagaimana Injil harus diberitakan? Apakah sifat Injil?
Inti dari Injil adalah Yesus sendiri. Pertimbangkan bagaimana Injil diberitakan oleh Tuhan Yesus. Ketika Yesus datang ke dunia ini, Ia tidak datang sebagai raja yang mulia yang lahir di istana. Bahkan Yesus tidak mempunyai tempat yang layak untuk dilahirkan. Ia dilahirkan bukan di tempat manusia lahir, tetapi di tengah-tengah binatang. Dengan kata lain, Yesus dilahirkan dalam kelemahan.
Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, bagaimana Ia menjalankan kehidupan-Nya? Ia berkata, "Aku tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Ku sendiri." Ia hidup dalam kelemahan yang total. Ia memilih untuk menjadi lemah. Itulah sebabnya di Yohanes 5:19, Yesus mengatakan,
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.
Dan sekali lagi di Yohanes 5:30,
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
Yesus berkata: "Aku tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Ku sendiri. Apa saja yang Ku-lihat yang dikerjakan Bapa, Aku kerjakan. Apa saja yang Ku-dengar dari Dia, itulah yang Ku-perbuat. Aku hidup hanya oleh kehendak-Nya. Aku tidak ada kekuatan dari diri-Ku sendiri. Aku tidak ada kuasa di dalam diri-Ku sendiri. Aku tidak berfungsi dari kekuatan diri-Ku sendiri. Aku tidak berarti apa-apa dan Dialah segalanya." Yesus dilahirkan dalam kelemahan dan Ia hidup dalam kelemahan.
Tahukah anda apa yang terjadi di Taman Getsemani? Apakah anda melihat Dia dalam kekuatan? Dalam keagungan? Dalam jubah imam besar yang mulia? Tidak. Yang anda lihat di Taman Getsemani adalah seseorang dengan muka-Nya sampai ke tanah, air mata tangisan membasahi muka-Nya sambil berseru, "Ya Bapa-Ku, kalau boleh, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tolonglah biarlah cawan ini lalu. Aku tidak dapat meminumnya. Aku tidak dapat." Apakah orang ini seorang pahlawan? Apakah orang ini, yang berlinangan air mata, akan menakluk dunia ini? Sangat memalukan. Ia tergeletak di atas tanah, seorang pria dewasa yang menangis. Dalam tradisi kami, sesuatu yang sangat memalukan jika seorang pria menangis. Dan di Taman Getsemani Yesus sedang menangis dengan muka-Nya sampai ke tanah.
Dalam Ibrani 5:7, kita baca:
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
Apa? Menyelamatkan-Nya dari maut? Memalukan! Lihat pada prajurit-prajurit kita yang berbaris maju dengan berani menuju kematian. Pantang mundur! Mulia! "Serbu!" - dan mereka maju ke dalam medan perang. Rebah dan rubuh ke atas tanah, tanpa ratapan dan tanpa satu keluhanpun mereka mati. Orang-orang seperti inilah memang pahlawan! Itulah pria sejati. Tetapi bagaimana dengan Yesus? Sang Anak domba. Lemah! Pernahkah anda melihatnya seperti itu? Itulah kenyataannya.
"Ratap tangis dan keluhan" - gambaran bagi kelemahan yang dahsyat. Apakah Ia didengarkan karena keberanian-Nya? Tidak. Ia didengarkan karena "ketakutan-Nya". [Kata 'takut' diambil dari teks Yunani yang berarti "ketakutan, kekuatiran" secara umum, tetapi banyak sarjana teologia berpikir bahwa di sini dan di beberapa tempat yang lain dalam Perjanjian Baru, kata itu memiliki arti yang khusus, yaitu "takut akan Allah, kesalehan"] Yesus bukan seorang pahlawan, dan Ia sendiri tidak bermaksud untuk menjadi seorang pahlawan. Ia adalah Anak Domba, yang lemah dan tidak berdaya, dilahirkan dalam kelemahan dan hidup dalam kelemahan atas pilihan-Nya sendiri. Di Taman Getsemani, anda tidak dapat melihat apa-apa melainkan kelemahan. Tidak ada kekuatan yang dapat dilihat. Inginkah anda mengikut pahlawan seperti ini? Kemudian pada akhirnya, disalib, apa yang anda lihat di situ? Seorang pahlawan yang mulia tersalib tanpa mengeluh sedikitpun? Bukankah kedengaran Yesus berkata: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Tidakkah ini kedengaran seperti satu keluhan terhadap Allah? Apa yang terjadi di sini? Apakah orang-orang yang berada di sekitar salib pada waktu itu tahu bahwa Yesus sedang mengutip Mazmur 22? Apakah anda mengetahui bahwa mazmur ini, sebenarnya adalah satu seruan dari hati dalam kelemahan total, sementara masih tetap percaya hanya kepada Allah untuk pembelaan dan kemenangan pada akhirnya?
Paulus menyimpulkan semua ini dengan kata-kata ini di 2 Korintus 13:4,
Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah.
Yesus tidak pernah hidup oleh kekuatan-Nya sendiri. Ia disalibkan dalam kelemahan. Tanamkan hal ini dalam pikiran kita. Ia lemah dari awal sampai akhir, sejak dilahirkan sehingga disalibkan. Seumur hidup-Nya hanya sebagai anak domba. Tidak ada sifat serigala di dalam diri-Nya. Hanya seekor anak domba yang lemah, tetapi kuat di dalam kuasa Allah. Sangat menakjubkan bahwa di Wahyu 5:5, Yesus disebut sebagai Raja dengan satu gelar yang deskriptif, "Singa dari Suku Yehuda", sedangkan dalam ayat yang berikutnya, Ia digambarkan sebagai "Anak Domba", dan kemudian tiga kali lagi (5:8, 12, 13) di dalam fasal yang singkat ini, Ia digambarkan sebagai "Anak Domba" yang disembah oleh semua yang setia kepada Allah.
Apakah Gambaran Yesus Ini Mengecewakan Anda?
Mungkin anda berkata, "Aku tidak pernah tahu Yesus begitu lemah. Sekarang aku akan mencari pemimpin yang lebih kuat." Ini menunjukkan bahwa anda masih terbiasa dengan masyarakat serigala, masih mencari "serigala alpha" (serigala #1) untuk diikuti. Anda tidak tahu bagaimana untuk mengikut Yesus yang lemah seperti ini.
Masalahnya, saudara-saudaraku, adalah anda masih belum memahami sifat dasar dari Injil. Apakah saya membuat anda bingung? Saya pikir demikian karena anda belum pernah memahami Injil dengan cara ini. Apakah Injil itu? Injil adalah kelemahan Kristus, tetapi Injil juga adalah kekuatan Allah di dalam Kristus.
Bacalah dengan teliti sekali lagi. Terdapat banyak perikop di dalam Alkitab yang tidak dapat anda mengerti sehingga anda menangkap prinsip ini dengan jelas. Jika anda melihat 2 Korintus 12, anda dapat mempelajari rahasia bagaimana Injil berfungsi. Cara berfungsinya dapat kita lihat dalam pribadi rasul Paulus. Apakah rasul Paulus seorang karismatik yang penuh kuasa? Ia memang seorang yang sangat pintar. Tetapi menurut laporan yang ada dari jemaat mula-mula, Paulus adalah seorang yang bertubuh pendek, botak dan tidak mengesankan. Ia bukan serigala yang karismatik seperti anggapan kita, tetapi hanya satu lagi anak domba. Kalau kita membaca surat-surat Paulus, kita dapat melihat bahwa pada kenyataannya, dia memiliki pikiran yang tiada tandingannya. Tetapi jemaat di Korintus berkata bahwa ketika Paulus berada di tengah-tengah mereka ia tampak lemah (2Kor. 10:10; 1Kor. 2:3; 4:10), sehingga mereka menghinanya (2Kor. 11:5, 6, 16). Mereka berani menggertaknya, menghakiminya (1Kor. 4:3, 5). Aneh, semua kesan dan anggapan kita mengenai Paulus ternyata keliru. Dan tahukah anda, bahwa itulah yang diinginkan Paulus. Ia memilih untuk menjadi "lemah" (1 Korintus 2:1-3). Sudah pasti sifat kedagingan Jemaat Korintus sangat mendukakan hati Paulus. Meskipun demikian, ia tetap memilih untuk menjadi "hambamu karena kehendak Yesus" (2Kor. 4:5). Itulah caranya Paulus berfungsi, karena ia mengetahui satu-satunya rahasia yang tidak kita ketahui.
Apakah Sifat Dasar Dari Injil?
Saya akan membacakan untuk anda 2 Korintus 12:10,
Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Jika anda tidak dapat mengingat apa-apa dari khotbah yang sudah disampaikan ini, ingatlah kata-kata ini. Inilah intisari dari Injil - "sebab jika aku lemah, maka aku kuat". Apakah anda memahami kata-kata itu? Saya pikir tidak. Bahkan saya sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memahaminya, karena pada dasarnya saya tidak lemah, dan karena itu sulit bagi saya untuk memahaminya. Tetapi saya harus memahaminya dan saya harus melakukannya, kalau tidak saya tidak dapat berfungsi dalam kuasa Allah. Dan jika saya membawa seseorang kepada Tuhan, apa yang saya lakukan adalah hanya sekedar menyakinkan serigala tersebut untuk setuju menjadi orang Kristen. Saya menyakinkan mereka dengan satu ideologi yang lebih baik, akan tetapi mereka masih tetap serigala. Mereka masih belum berubah di dalam. Mereka enggan menjadi lemah. Mereka mau tetap kuat. Mereka menginginkan satu ideologi yang lebih baik. Saya dapat memenangkan seluruh dunia dengan cara ini. Sayangnya, gereja sebenarnya telah memenangkan dunia persis dengan cara ini. Dengan cara demikian, gereja telah mengkristenkan dunia dan menghasilkan satu masyarakat serigala yang sudah dikristenkan. Gereja sudah menjadi serigala yang paling berkuasa. Gereja menjadi organisasi yang paling kaya, paling berpengaruh, dan menurut ukuran apapun, merupakan institusi yang paling terorganisir. Gereja di Amerika menguasai negara itu. Mereka dapat menggoyangkan pemerintah. Setiap Presiden Amerika harus berjaga-jaga dalam berbicara, karena gereja dapat menurunkan dia kapan saja. Kalau kita perhatikan, setiap Presiden Amerika akan mengaku sebagai orang Kristen, kalau tidak ia tidak akan pernah dapat dipilih menjadi Presiden.
Pada dasarnya dunia ini sekarang dipenuhi oleh serigala-serigala yang telah dikristenkan. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa anda akan menghadapi kesulitan menemukan Injil yang diberitakan dengan benar di mana saja di dunia ini. Kita dapat mengkristenkan seluruh dunia dengan mengatakan: "Anda boleh tetap sebagai serigala." Hanya saja bersikap lebih baik sedikitlah terhadap sesama, hanya perlu lebih bermoral sedikit, atau percaya saja pada beberapa doktrin tertentu. Percaya sajalah bahwa Yesus telah datang ke dalam dunia ini, dan Ia menjalankan satu kehidupan yang suci di dunia ini, dan bahwa Yesus telah mati untuk kita. Selama Ia yang mati untuk saya, saya tidak perlu mati. Jadi biarlah Dia yang mati dan saya yang hidup. Karena Ia telah membayar hukuman bagi dosa saya, saya dapat terus hidup dalam dosa. Sesudah itu, saya hanya perlu kembali dan melakukan pengakuan. Saya akan mendapat pengampunan dan saya dapat melanjutkan kehidupan saya. Saya merasa aman begini. Kehidupan kekristenan sangat cocok bagi saya. Saya akan melahap beberapa anak domba lagi dan hari Minggu berikutnya, saya akan bertobat dan berkata, "Bapa, (atau, Pendeta), saya minta maaf saya menelan beberapa anak domba kelmarin". "Oh ya? Kamu serigala jelek, atau kamu domba jelek (kamu tampak seperti anak domba untuk saat), pergilah dan tebuslah dosamu, dan saya akan memberikan beberapa disiplin kepada kamu. Kamu berdoa dengan berlutut selama 15 menit setiap hari selama beberapa bulan. Dan pergilah dan menjadi domba (atau apapun kamu itu) yang lebih baik."
Seperti inilah kekristenan pada masa kini. Jadi minggu yang berikutnya, anda menelan seekor anak domba yang lain dan anda berkata, "Bapa Pendeta, saya menyesal, saya agak lapar. Saya masih belum belajar makan rumput. Saya membutuhkan sedikit waktu lagi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan diet. Saya sudah berusaha untuk memakan rumput, tetapi tidak terlalu cocok dengan pencernaan saya."
Rahasia Kehidupan Kristen: Kuasa Melalui Kelemahan
Kita tidak tahu bahwa rahasia kehidupan Kristen adalah kuasa melalui kelemahan - kuasa Allah melalui kelemahan kita. "Jika aku lemah, maka aku kuat." Saya tidak tahu apakah saya berhasil menyampaikan pesan ini kepada anda. Saya hampir tidak mau mengkhotbahkannya karena saya tahu betapa sulitnya untuk dimengerti. Saya curiga setelah anda keluar dari tempat ini hari ini, anda akan berkata, "Saya tidak tahu harus berbuat apa dengan khotbah itu. Saya tidak dapat mengubah diet saya. Saya suka makan daging domba. Saya masih belum bisa makan rumput, masih belum terbiasa hanya makan sayuran." Dan anda dengan senang hati tetap menyebut diri sebagai orang Kristen sekalipun dengan sifat serigala di dalam. Dan pada Hari itu, saat anda bertemu dengan Tuhan Yesus, anda akan malu sekali.
Anda akan berhadapan dengan Anak Domba, dan Ia akan menatap anda dan berkata, "Mengapa kamu ada di sini?"
"Aku orang Kristen, dan aku memanggil Engkau 'Tuhan'", anda menjawab.
"Kamu bukan milik-Ku karena kamu mempunyai sifat yang berbeda. Kamu seekor serigala."
"Aku sekali-sekali makan rumput, Tuhan," anda membela diri.
Itu tidak cukup untuk membuat perbedaan.
Kita akan tutup khotbah ini sebentar lagi. Kita harus mengerti rahasia ini. Seluruh kehidupan kekristenan, sama seperti Tuhan Yesus sendiri, diawali dalam kelemahan dan ditempuh dalam kelemahan. Anda harus mengaku bahwa anda adalah seorang yang berdosa dan bertobat dari dosa-dosa anda. Adakah hal yang lebih lemah dan lebih memalukan dari pada menjadi seorang berdosa yang merendahkan diri, merangkak di atas lutut dan bertobat? Sebelumnya, anda berdiri tegak, tetapi saat ini anda merendahkan diri di atas lutut dalam kelemahan untuk menyatakan pertobatan. Dalam baptisan, seseorang mengangkat anda dan membenamkan anda ke dalam air, basah, dan air menetes di semua tempat. Bukankah ini satu penghinaan? Jika seseorang berbuat seperti itu kepada saya sewaktu saya masih non-Kristen, saya akan meninju matanya. Tetapi di sini anda menundukkan diri kepada seseorang yang memegang leher anda dan membenamkan anda ke dalam air. Apakah ini bukan kelemahan?
Pertobatan merupakan suatu ekspresi kelemahan yang paling sempurna. Jika tidak ada ekspresi kelemahan, maka tidak ada pertobatan. Sebelumnya, mungkin orang lain memandang kepada anda untuk mendapatkan belas kasihan. Andalah yang membagikan belas kasihan, kalau tidak anda menancapkan gigi yang runcing pada mereka. Tetapi sekarang, anda harus pergi kepada orang-orang yang anda sakiti dan meminta belas kasihan, dengan kata-kata, "Tolong ampunilah aku."
Tetapi bagaimana selanjutnya? Apakah anda dapat melanjutkan dalam kelemahan? Seringkali tidak. Anda masih belum melihat banyak perubahan terjadi dalam hidup anda. Anda masih orang yang sama seperti dulu. Anda masih berpikir dengan cara yang sama dan bertingkah laku dengan cara yang sama. Tujuan anda menjadi orang Kristen adalah untuk menjadi kuat. Tidakkah Yesus sendiri berkata Ia akan memberikan kehidupan yang berkelimpahan dan damai sejahtera dan sukacita? Bukankah damai dan sukacita kekuatan? Di mana lagi saya harus berubah?
Hal ini juga merupakan salah satu misteri kepada saya: saya sering melihat banyak orang berada di gereja selama bertahun-tahun dan saya tidak melihat adanya perubahan pada diri mereka. Jika anda masih belum menjadi samasekali lemah, anda tidak akan pernah mengalami kuasa-Nya. Pengalaman pertama saya dengan Allah merupakan juga saat dimana saya menjadi lemah untuk pertama kalinya. Pada saat itulah saya merendahkan diri secara total di hadapan Allah, rela menyembah-Nya di dalam debu, rela menjadi tidak berarti di hadapan-Nya, dan saat itulah Ia menyatakan hadirat-Nya kepada saya. Itulah sebabnya saya menjadi seorang Kristen sampai saat ini, karena Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya dan keagungan-Nya kepada saya. Sejak saat itu, saya tidak pernah mau berbalik lagi. Setiap kali saya menjadi lemah dan rela merendahkan diri di hadapan-Nya, Ia terus-menerus menyatakan diri-Nya kepada saya. Saya sudah membagikan di dalam kesaksian saya keajaiban demi keajaiban yang saya alami ketika Ia memelihara saya di dalam kelemahan, seperti kekurangan makanan. Demikianlah caranya Tuhan membuat saya menjadi lemah supaya saya dapat mengalami-Nya setiap saat.
Itulah sebabnya mengapa Paulus berkata, "Aku akan bermegah di dalam kelemahan," karena justru dengan cara itulah, ia mendapat pengalaman dengan Allah. Anda terlalu kaya. Anda terlalu kuat. Anda memiliki kedudukan yang tinggi. Itulah sebabnya anda tidak mendapat pengalaman dengan Allah. Saya dapat menjamin hal ini: jika anda kaya, anda tidak akan mengalami dimana Allah mencukupi dan menyediakan segala kebutuhan anda. Anda tidak membutuhkan Dia untuk memelihara anda. Jika anda mempunyai kedudukan yang tinggi, anda merasa puas dengan diri sendiri. Sebagai seorang yang puas dengan diri sendiri, apakah anda akan membutuhkan Allah? Saya jamin tidak. Anda mungkin berkomat-kamit menyaksikan sedikit pengalaman dengan Tuhan di sana-sini, tetapi anda pribadi tahu bahwa semua itu bukan pengalaman yang mendalam. Jika anda ingin mempunyai pengalaman Allah dengan cara yang lebih mendalam, anda harus turun ke dalam kelemahan.
Turun Ke Dalam Kelemahan
"Jika aku lemah, maka aku kuat." Mengapa? Karena dalam beberapa ayat sebelumnya, Tuhan berkata kepada Paulus: "dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Tuhan tidak pernah gagal. Setiap kali anda menjadi benar-benar lemah, menjadi anak domba, dan merendahkan diri ke dalam debu, Allah akan menyatakankan kekuatan dan kemuliaan-Nya. Anda dapat mencobanya. Jika prinsip ini tidak berhasil, maka Alkitab tidak menyatakan kebenaran. Jika Alkitab tidak menyatakan kebenaran, maka lebih baik jangan menjadi orang Kristen. Jangan pernah datang ke gereja lagi, karena semua ini omong kosong. Apakah Injil itu benar atau tidak? Ini adalah persoalan yang berkaitan dengan kekuatan Allah yang menjadi nyata melalui kelemahan kita. Persoalan ini adalah persoalan hidup atau mati. Janganlah bermain-main dengan Injil. Saya tidak mempunyai waktu untuk hal yang dangkal. Apakah Allah nyata atau kita sedang menyia-yiakan waktu kita dengan khotbah ini? Itulah kenyataannya.
Sebagai kesimpulan, kita telah menyimpulkan tiga poin yang berhubungan dengan Injil.
1. Diselamatkan - kita telah diselamatkan dan keselamatan berarti perubahan (transformasi).
2. Diutus - kita diutus sebagai anak-anak domba ke tengah-tengah serigala. Hal ini tersendiri adalah satu keajaiban, karena di dalam kelemahan anak domba, kuasa Allah dinyatakan. Anak domba akan mengalahkan serigala oleh kuasa Allah (Roma 12:21; 1 Yohanes 5:4).
3. Kekuatan - pengalaman yang terus-menerus hidup di dalam kekuatan Allah sementara kita menerima dengan senang hati kelemahan kita. Dengan cara demikian kita mengalami kenyataan Allah setiap hari. Itulah caranya kita dapat menjadi seorang Kristen yang dinamis: seekor anak domba yang dapat mengalahkan serigala-serigala. Seluruh dunia akan melihat dan menjadi heran. Anak domba yang menaklukkan seluruh dunia dengan kuasa Allah (Yohanes 16:33). Anak domba Allah mengalahkan segala sesuatu (Wahyu 17:14).
Di ambil dari:
