Friday, December 3, 2010

Jangan membiarkan kepahitan Mengakar dalam diri anda

 Artikel ini di tulis oleh: Saudara YAFET dari Forum flobamor

Bacaan: Ibrani 12:14-15

Kita sering mengalami sesuatu yang tidak adil atau perlakuan yang tidak baik, ini merupakan bagian dari kehidupan nyata. Ketika kita diperlakukan tidak adil oleh orang lain, kita dapat memilih untuk menanggung penderitaan itu sehingga menjadi kepahitan dalam diri kita (tumbuh akar yang pahit), atau kita dapat memilih membiarkan itu berlalu dan mempercayai Tuhan untuk membuat keadilan bagi kita.

Menurut penelitian 70% orang saat ini marah terhadap sesuatu. Angka 70% menunjukkan bahwa 7 dari 10 orang yang kita temui akan menjadi marah. Ini tidak termasuk orang-orang yang lalu lalang di jalan.

Orang yang menjadi tempat berlabuh kemarahan sering tidak menyadarinya hal ini, tetapi mereka terus menerus meracuni kehidupan mereka sendiri dengan rasa marah. Bila kita tidak memaafkan, mungkin kita tidak sedang menyakiti orang lain, mungkin kita tidak sedang menyakiti instansi di mana kita bekerja yang memperlakukan kita dengan salah, kita tidak menyakiti Tuhan, tetapi kita sedang menyakiti diri kita sendiri.

Kalau kita ingin menjalani kehidupan terbaik kita saat ini, kita harus dengan cepat memaafkan. Belajar untuk membiarkan luka-luka kepahitan dan penderitaan masa lalu berlalu. Jangan membiarkan kepahitan mengakar dalam diri kita dan hidup kita. Mungkin sesuatu terjadi pada kita saat kita kecil, seseorang salah memperlakukan kita, seseorang mengambil keuntungan dari kita. Mungkin seseorang menipu kita atau mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita. Mungkin seorang teman dekat berkhianat terhadap kita dan kita memiliki banyak alasan untuk menjadi marah dan merasa getir dan pahit.

Tetapi demi kesehatan emosional dan spiritual kita, kita harus membiarkan semua itu berlalu. Karena semua itu tidak membawa kebaikan bagi kita untuk membenci seseorang yang telah melakukan kesalahan kepada kita. Juga tak masuk akal untuk terus menerus memendam kemarahan terhadap apa yang dilakukan orang pada kita di masa lalu. Karena kita tak mungking dapat mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi kita dapat melakukan sesuatu untuk masa depan kita. Kita dapat memaafkan dan mulai mempercayai Tuhan untuk melakukan yang terbaik bagi kita.
Seperti dikatakan dalam bacaan di atas: “jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. “ Perhatikan bahwa kepahitan dijelaskan sebagai suatu akar. Pikirkan hal ini. Akar tidak bisa dilihat karena berada jauh di dalam tanah. Tetapi anda dapat merasakan dan melihatnya dari buah yang dihasilkannya. Akar yang pahit menghasilkan buah yang pahit juga. Karena itu kalau dalam diri kita mengalami kepahitan, maka kepahitan ini akan mempengaruhi seluruh bidang kehidupan kita.

Banyak orang mencoba mengubur, atau menyembunyikan kepahitan atau luka-luka mereka dalam-dalam di hatinya atau di alam bawah sadar mereka. Mereka menjadi tempat pelabuhan atau persinggahan perasaan tak memaafkan dan kemarahan mereka, kemudian mereka bertanya mengapa mereka tak dapat hidup dalam kemenangan, mengapa mereka tidak dapat bergaul dengan orang lain, mengapa mereka tidak dapat menjadi bahagia. Mereka tidak menyadari hal ini, hal ini karena hati mereka telah diracuni oleh kepahitan dan kemarahan mereka. Alkitab mengatakan Matius 15:19-20 “ Karena dari hati hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. 20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dgn tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” Dengan kata lain, kalau kita memiliki kepahitan dalam diri kita, itu akan berakhir dengan kontaminasi atau polusi segala sesuatu yang keluar dari kita. Itu akan mengkontaminasi pribadi kita dan sikap kita, serta bagaimana kita memperlakukan orang lain .

Banyak orang mencoba memperbaiki diri mereka atau kehidupna mereka dengan cara memperbaiki bagian luar mereka. Mereka mencoba mengurangi perilaku buruk mereka, perangai buruk mereka, atau persona atau citra mereka yang negatif. Mereka berhubungan dengan buah-buah dari kehidupan mereka, mencoba merubah sesuatu yang bersifat mendatangkan daya tarik. Tetapi kebenarannya sebenarnya tidak mereka selesaikan yaitu, berhubungan dengan akar kepahitan hidup mereka. Kalau mereka tak mampu membiarkan akar kepahitan itu berlalu, maka mereka tak akan dapat merubah buah-buah kehidupan mereka. Karena selama akar kepahitan masih bertumbuh dalam diri mereka, maka masalah merek akan tetap ada dan akan terus tertampil keluar dari waktu ke waktu. Kita mungkin dapat mengontrol perilaku kita untuk sesaat atau menjaga sikap yang baik untuk periode yang singkat, tetapi pernahkah kita bertanya mengapa kita tak pernah merasa bebas? Mengapa kita tak mampu mengalahkan perilkau atau kebiasaan-kebiasaan yang jelek.

Kita harus mencari lebih dalam. Kita harus menemukan mengapa kita begitu marah, mengapa kita selalu begitu negatif. Kalau kita mencari lebih dalam dan mecapai akar permasalahan , maka kita akan mampu berurusan dengan persoalan utama, mengalahkannya dan mulai merubahnya.

Seringkali kita tidak perlu kembali dan melepaskan semua pengalaman negatif, mengulang semua pengalaman masa lalu yang getir dan pahit. Tak perlu harus semua itu kita lakukan. Tetapi yang penting adalah kita meneliti, memeriksa hati kita untuk memastikan bahwa kita tidak menyembunyikan kemarahan dan ketidakmampuan mengampuni di dalam diri kita. Kalau kita memiliki daerah dalam hidup kita dimana ada pergumulan terus menerus, pertentangan terus menerus, mencoba merubah tetapi menemukan diri anda tak mampu melakukannya, maka kita membutuhkan Tuhan dalam hal ini untuk menunjukkan pada kita apa yang menghalangi kita dari kebebasan. Bertanyalah kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada anda kalau anada memiliki sesuatu akar kepahitan yang butuh untuk digali dan dikeluarkan dari hidup anda. Kalau Tuhan memberikan sesuatu pencerahan, cepat-cepat menanganinya. Mau berubah. Jangan biarkan racun masa lalu terus menerus mengkontaminasi meracuni kehidupan anda.

Bertahun-tahu yang lalu terjadi penyebaran penyakit dalam suatu dusun kecil di suatu daerah terpencil Afrika. Baik anak-anak dan orang dewasa jatuh sakit dan muntah-muntah. Beberap mingu berlalu, dan penyakit ini menyebar makin luas, dan orang mulai meninggal. Kabar penyakit ini mencapai kota utama, dan para ahli dikirim untuk mencari tahu apa penyebab masalahnya. Mereka kemudian menemukan bahwa sumber ari terkontaminasi. Massyarakat pendesaan itu mendapatkan sumber air mereka dari mata air di gunung, maka para ahli itu memutuskan mengikuti sumber air tersebut untuk menemukan sumber polusinya. Mereka berjalan berhari-hari dan akhirnya tiba di mulut aliran air. Tetapi di atas permukaan mereka tidak menemukan hal-hal yang salah. Bingung dengan hal ini, mereka memutuskan menyelam untuk mencari lebih dekat pada mata air tersebut.

Apa yang ditemukan para penyelam mengejutkan para ahli. Seekor babi betina dan bayinya tergeletak tepat dimulut mata air. Mungki mereka terjatuh dan tenggelam dan terjebak disitu. Bangkai mereka mencemarkan air itu dan menebarkan penyakit ke seluru desa. Ketika para penyelam mengeluarkan bangkai babi ini, air yang mengalir menjadi bersih dan terbebas dari pencemaran.

Dalam kehidupan kita sesuatu negatif yang sama mungkin terjadi. Kita semua mengalami sesuatu yang negatif. Mungkin kemarin, mingu lalu atau bertahun-tahun lalu. Seringkali, bukannya membiarkan hal-hal negatif itu berlalu dan memberikannya kepada Tuhan, kita menyimpannya dalam kehidupan kita. Kita tidak memaafkan, dan sama seperti babi-babi itu, kepahitan itu mencemari kehidupan kita.
Dimulai dengan sesuatu yang buruk terjadi. Beberapa saat kemudian kita mulai menerimanya. Kita kemudian mulai menyediakan tempat dalam hati kita bagi kepahitan itu; sesudah itu kita mulai belajar hidup berdampingan dengan kepahitan kita. Akhirnya dia menjadi bagian dari hidup kita sehingga kita mengakui sebagai pribadi kita. Kita mengakui bahwa kita adalah seorang pemarah, seorang pendendam. Itu adalah pribadi kita. Kita selalu seperti itu. Kita selalu pahit dan getir. Itulah kita.

Semua itu tidak benar, kita sebenarnya bukan seperti itu. Kita butuh kemampuan untuk mengeluarkan racun itu dalam diri kita yang mencemari hidup kita dan pribadi kita. Kita sebenarnya adalah seperti kristal yang jernih, seperti air yang jernih, bukan air yang kotor dan buram. Karena Tuhan menciptakan kita menurut citra diriNya. Tuhan menginginkan kita gembira, sehat seutuhnya. Tuhan ingin kita menikmati kehidupan kita sepenuhnya, bukannya hidup dalam kepahitan, kemarahan dan dendam, dicemari dan diracuni sehingga juga mencemari orang lain dimana kita memiliki pengaruh.

Bayangkan diri anda sebagai kristal yang jernih meskipun saat ini anda masih berada dalam lumpur kepahitan dan dendam. Kalau anda mulai memaafkan orang yang melakukan kejahatan kepada anda, dan melepaskan semua kepahita, luka-luka dan kegetiran, maka semua itu akan terlepas dan meninggalkan anda dan anda akan mulai melihat diri anda seperti air yang jernih, kristal yang jernih kembali. Anda akan mengalami kebahagiaan, kedamaian, dan kebebasan yang Tuhan inginkan terjadi pada anda dan hidup anda.

Mungkin ini sama seperti yang diminta oleh Daud ketika ia mengatakan dalam Mazmur 139;23: “selidikilah aku ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikira-pikiranku;” Kita erlu menyelidiki hati kita dan meyankinkan kita bahwa kita tidak memiliki sesuatu akar kepahitan yang tertanam jauh di dalam lubuk hati kita.
Seringkali sesuatu kepahitan awalnya bukanlah sesuatu hal yang besar yang mencemari hidup kita. Mungkin suami atau isteri kita tidak pernah meluangkan waktu bersama kita seperti yang kita harapkan, dan kemudian kita mulai merasakan kemarahan dan dendam. Kita mulai berlaku kaku terhadap pasangan kita, tidak menghargai lagi padanya, mulai mendiamkan pasangan kita, menyembunyikan sesuatu dari dia, tidak lagi bersikap ramah padanya. Kita secara sadar menjadi makin kaku dan terbiasa dengan hal itu.

Hati-hati dengan hal itu. Akar kepahitan ini akan mencemari hidup kita. Karena itu tetapm menjaga agar aliran sungai kehidupan kita tetap bersih dan murni. Jangan biarkan hati kita tercemar. Alkita berbicara tentan dalam Matius 6: 14-15 “ karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga, 15 tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Alkitab berbicara untuk cepat mengampuni, makin lama kita menahan, makin keras itu akan terjadi. Makin lama kita menahan kemarahan dan dendam itu, makin dalam akar kepahitan itu berkembang.
Kadang-kadang, dari pada memaafkan dengan segera, membiarkan kepahitan dan kegetiran itu pergi, kita secara diam-diam mengubur itu dalam-dalam jauh di dalam hati kita dan pikiran kita. Kita tak ingin membicarakannya. Kita tak ingin memikirkannya. Kita inign mengabaikannya dan berharap itu akan berlalu begitu saja.
Itu tidak akan terjadi. Sama seperti babi yang terjebak dalam mata air dan mencemari aliran air, suatu ketika itu pencemarannya akan timbul dalam hidup kita, dan hidup kita akan menjadi berantakan. Bila itu terjadi maka hal itu akan membuat kita jauh lebih sakit dan sedih, dan kalau kita menolak berhubungan dengan itu, kepahitan itu bahkan dapat membunuh kita.

Beberapa puluh tahun yang lalu beberapa perusahaan Amerika diminta oleh pemerintah Amerika untuk mengubur produk buangan yang beracun di bawah tanah. Mereka mengisi produk ini ke dalam kontainer besi, dan menutupnya drum itu rapat-rapat, dan menguburkannya dalam-dalam jauh di bawah tanah. Mereka mengira masalah sudah berakhir. Namun tidak berapa lama kontainer ini mulai bocor produk beracun ini mengalir naik kepermukaan tanah, dan menyebabkan masalah, Di beberapa lokasi produk beracun ini membunuh sayuran dan mencemari suplai air. Di dekat daerah air terjun Niagara, banyak orang mulai menderita sakit dan mati karena kanker atau penyakit-penyakit lain. Sampai saat ini banyak masyarakat masih menderita akibat penguburan produk beracun tsb.
Apa yang salah? Karena mereka mencoba mengubur sesuatu yang terlalu beracun. Racun ini tidak dapat diisolasi. Mereka pikir mereka dapat menguburnya dan persoalan selesai. Mereka tidak menyadari bahwa bahan yang mereka kubur terlalu kuat dan berbahaya untuk dimasukkan begitu saja dalam kontainer.

Hal yang sama terjadi juga dengan kita. Bila seseorang menyakiti kita, seseorang berbiuat salah pada kita, dari pada membiarkan itu pergi dan menyerahkan kepada Tuhan untuk memperbaiki hidup kita, kita mencoba menguburkan kepahitan itu dalam-dalam di dalam hati kita. Kita mencoba menumpuk ketidak mampuan mengampouni/ memaafkan, kemarahan, dendam dan berbagai hal-hal merusak dalam “kontainer diri kita yang mudah bocor”. Tetapi sayang sekali, sama seperti bahan beracun yang dapat bocor dan naik ke permukaan, suatu ketika hal-hal yang kita tumpuk dalam-dalam itu akan naik ke permukaan dan mulai mencemari hidup kita. Kita tak dapat hidup bersama racun dalam diri kita dan mengharapkan hal itu tidak merusak diri kita.

Hadapilah itu. Kita tidak terlalu kuat untuk menghapus racun dalam hidup kita. Kita membutuhkan pertolongan dari seseorang yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari kita. Itulah sebabnya kita perlu memberikan kepahitan, dendam kemarahan, dan berbagai bahan pencemar kepada Tuhan. Pengampunan adalah kunci untuk pembebasan dari racun kepahitan. Mengampuni orang yang menyakiti kita. Mengapa atasan yang berbuat salah pada kita, mengampuni teman yang berkhianat atau berdusta pada kita, mengampuni orang tua yang mungkin salah mendidik dan memperlakukan kita dengan baik. Jangan membiarkan akar kepahitan berkembang menjadi besar dan lebih mendalam dan terus mencemari hidup kita.
Bagaimana kita mengenal berbagai racun dalam hidup kita. Pada beberapa orang itu kelihatan seperti kemarahan. Pada orang lain terlihat seperti depresi, tertekan. Pada yang lain lagi seperti merasa kurang daya tarik pribadi. Racun ini dapat menampilkan diri dalam berbagai cara yg berbeda dan kadang merusak sebelum kita sempat menyadarinya.Sebagai contoh, seoerang petinju mungkin bertinju karena rasa marah akibat pengalaman masa kecil diperlakukan secara sadis atau diolok-olok orang lain. Seorang mungkin mencoba menghindari jalan ke tempat kerja karena di jalan itu tinggal seseorang yang tidak disukainya yang mungkin sedang berdiri di tepi jalan ketika ia melewati jalan itu.

Kunci untuk melepaskan diri dari racun kepahitan karena diperlakukan salah atau disakiti oleh orang lain adalah dengan memaafkan. Melalui pengampunan kita justru dibebaskan dari kepahitan kita dan dari kemungkinan racun yang mengendap di dalam diri kita. Bila kita ingin melanjutkan hidup kita, kita harus membiarkan semua kepahitan itu pergi dari kita, mengampuni dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan berbuat yang terbaik bagi kita.

Dengan memaafkan kita mendapatkan kegembiraan kita kembali. Dengan pengampunan kita mendapatkan kembali kedamaian diri kita. Jadi ketika kita mengampuni seseorang, kita bukan saja berbuat baik baik orang itu, tetapi jauh lebih besar adalah berbuat baik untuk diri kita sendiri.

Kalau kita tak mau mengampuni seseorang, maka hal ini akan menjauhkan kita dari berkat Tuhan. Doa-doa kita akan tidak dijawab oleh Tuhan. Karena kalau kita berdoa tetapi jauh di dalam hati kita, kita belum mengampuni seseorang, maka sebaiknya kita berdamai dulu dengan orang itu baru datang menghadap Tuhan. Kepahitan akibat ketidak mampuan kita kita mengampuni akan membuat berkat Tuhan menjauh dari kita, dan doa-doa kita tak didengar Tuhan.
Pengampunan adalah suatu pilihan, tetapi itu bukan suatu option. Karena seperti dikatakan oleh Yesus, “Bila kita tidak mengampuni orang lain, maka Bapamu di surga juga tidak akan mengampunimu.” Jadi kalau kita ingin mendapatkan kebahagiaan, kegembiraan, kedamaian, jangan menahan pengampunan kita pada orang lain. Biarkan pengampunan kita terjadi. Jangan biarkan kepahitan mengakar dalam diri kita. Bila Tuhan menunjukkan hal-hal itu kepada kita, cepat-cepatlah melakukannya. Jagalah hati kita sejernih dan sebening kaca. Buanglah racun kepahitan jauh-jauh dalam diri kita. Niarlah Tuhan mendatangkan keadilan dalam hidupmu dengan melimpahkan berkat-berkat yang jauh lebih besar dari apa yang sudah dicuri dalam hidupmu. Tuhan mengembalikan apa yang hilang dalam hidup anda akibat perbuatan orang lain.

Sama seperti Yusuf mengampuni saudara-saudaranya yang telah menjual ia ke Mesir sebagai budak, maka Allah mengembalikan semua yang hilang dari padanya akibat perbuatan saudara-saudarnya berlipat-lipat ganda bahkan menjadi orang nomor dua tertinggi di Mesir sesudah Firaun. Resapilah apa kata Yusuf kepada saudara-saudaranya: kalian merancang malapetaka kepadaku, tetapi Allah mengubah malapetaka itu menjadi keselamatan bukan saja untukku tetapi juga untuk memelihara kehidupan dan menjamin kelanjutan keturunanmu di muka bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.

http://www.flobamor.com/forum/bina-rohani/6428-jangan-membiarkan-kepahitan-mengakar-dalam-diri-anda.html#post58678

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...