"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26).

Seorang hartawan sedang terbaring di tempat tidur menunggu saat kematiannya. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari uang. Saat menghadapi masalah dalam kehidupannya, ia selalu berprinsip bahwa uang dapat menolongnya untuk keluar dari masalah tersebut.

Menjelang hari kematiannya, ia berpesan kepada keluarganya untuk meletakkan sebuah kantong yang penuh berisi uang dan emas di dalam peti matinya. Tidak lama kemudian ia meninggal dunia, dan keluarganya melakukan pesan terakhirnya.

Di dunia lain, ia mencoba untuk mencari namanya pada buku kehidupan. setelah lama mencari dan belum juga menemukan namanya, maka ia pun menjadi haus dan lapar.


Setelah mencari beberapa saat, ia menemukan sebuah restoran yang menurutnya cukup nyaman baginya. "Wah,ini waktunya untuk membelanjakan uangku,"ia berkata kepada dirinya sendiri.

Kemudian, ia masuk ke restoran dan mengeluarkan uangnya untuk memesan beberapa jenis makanan. Tetapi, pelayan restoran itu menolaknya dan berkata, bahwa uangnya sama sekali tidak bernilai. Ia sangat heran dan terkejut mendengar hal itu, dan meninggalkan restoran tersebut dengan sedih. Dan, ia pun harus menahan rasa haus dan lapar yang menyiksanya.

Sangatlah menyedihkan jika kita hanya kaya di mata manusia, tetapi miskin di mata Tuhan. Segala sesuatu di dunia ini akan berakhir, tetapi hidup kekal akan datang menunggu kita. Apakah kita siap untuk menghadapi hal tersebut? Bukanlah suatu hal yang salah menjadi kaya di dunia ini, tetapi harus ingat, apakah kita juga kaya di hadirat Tuhan?

Jangan pernah lupakan bahwa ‘mata uang’ di bumi sangatlah berbeda. Apa yang Anda anggap berharga di bumi, belum tentu berharga di surga. Tuhan tidak mau menerima uang yang Anda bawa dari bumi ini, tapi Tuhan mau terima apa yang sudah Anda investasikan sebelumnya.

Sumber : generasi minyak anggur/lh3/jawaban.com